The Beauty of Art

F-Hole String Orchestra Concert : From Baroque to 20th Century

Saya nonton konser F-hole string orkestra ISI lagi^^..kembali menikmati sajian musik klasik dengan aturan baku, move on dari konser musik Arties yang saya tonton 3 hari sebelumnya bareng Five.

Ini merupakan konser kedua F-Hole  di tahun 2013 setelah gelaran “Early 20th Century Music” Februari lalu.

Kali ini konser mengangkat tema “From Baroque to 20th Century”. Mereka mempersembahkan beberapa karya musik dari zaman Baroque sampai Modern dengan format string orchestra (violin, viola, contra bass dan cello). Saya nggak ngerti juga sih soal sejarah musik klasik, tapi dari hasil baca-baca, musik klasik memang di kelompokkan menjadi beberapa periode sesuai perkembangannya. Zaman Baroque sendiri berada pada 1600-1750M. Kemudian dilanjutkan zaman Klasik, Era Romantik dan Era Modern.

Selasa malam, 12 November 2013 sekitar pukul 20.00 WIB, pemain orkestra dengan Danny Ceri sang concert master telah menempatkan diri di panggung. Malam itu para wanitanya nampak beda, mereka pakai dresscode pink. Lovely. Tapi saya lebih senang melihat mereka pakai hitam, lebih elegan  *hehehe…ini apaan sih malah ngomentari kostum*

Sambutan Ketua Panitia F-Hole String Concert

Tinggal tunggu sang konduktor Pak Budhi Ngurah dipanggil naik ke panggung untuk memulai konser. Namun seperti pada umumnya sebuah acara, ada sambutan-sambutan hirarkis dulu. Paling menyita perhatian adalah sambutan dari ketua panitia. Di dalam sambutannya, ketua panitia sempat menyinggung bahwa butuh perjuangan untuk mendapatkan suplay listrik yang memadai di concert hall tersebut. Dia jadi mengungkapkan kendala dan permasalahan yang terjadi antara panitia dengan kampus. Mbaknya ini sampai hampir nangis meminta maaf kalau-kalau listrik mati di tengah konser berlangsung. Memang sih sebelum konser dimulai tadi listrik concert hall sering byar-pet. Namun untunglah yang dikhawatirkan nggak terjadi, listrik tetap menyala sampai konser selesai. *Selamat ya, Mbak*

Setelah beberapa sambutan dan pembacaan aturan nonton, konser pun di mulai.

F-Hole String Orchestra Concert, Conduct by Budhi Ngurah

 

Konser dibagi menjadi 2 sesi.

Danny Ceri

Danny Ceri

Sesi 1 diawali Concerto Groso No IV karya komponis zaman Baroque Arcangelo Correll. Karya ini dimainkan dengan solo violin dari Danny Ceri. Nggak bisa komen, Danny Ceri bravo pokoknya..

Dilanjutkan Divertimento karya Mozart yang merupakan jenis musik abad 18, zaman klasik. Mozart dan muridnya, Beethoven, memang komponis yang terkenal di zaman ini. Saya sering dengar nama Beethoven tapi paling mentok tahunya Fur Elise doank yang banyak dijadikan lagu di kotak musik. Pun sama dengan Mozart, saya cuma sekedar tahu twinkle-twinkle little star hehehe..

Sebuah komposisi karya Tchaikovsky Elegy for string dimainkan kemudian. Rangkaian bunyi yang mengalun bener-bener menggambarkan kalau ini adalah sebuah karya dengan citarasa galau bin melankolis 😦

Aus Holberg Zeit yang ditulis Edward Greig menutup sesi 1.

Setelah jeda istirahat sekitar 10 menit, konser pun memasuki sesi 2.

Simple Symphony No 2 milik Jeff Manookian -yang terdengar tidak simple di telinga- dimainkan, diteruskan Adagio for string karya Samuel Barber. Kata bookletnya, ini adalah   ost film tentang perang Platoon aransemen gelap. Kurang mengerti apa yang dimaksud aransemen gelap. Bagi saya komposisi ini terdengar sedih, seperti backsound death scene.

Komposisi terakhir yang dimainkan di sesi 2 sekaligus menutup konser malam itu adalah Fuga Y Misterio karya musisi abad 20 Astor piazzola. Dari semua komposisi yang dibawakan f-hole string orkestra, komposisi terakhir ini paling saya favoritkan. Komposisi berbentuk fuga, setiap instrumen mengimitasi pola permainan instrumen lain. Di sini awalnya violin memainkan polanya, terus diulang instrumen lain dengan lebih kompleks.

 

Pemberian buket bunga kepada Konduktor, Concert Master dan principal di akhir acara.

Btw kabarnya memperdengarkan musik klasik ke janin baik buat kecerdasannya kan ya..kalau yang ndengerin udah bukan janin mudah-mudahan masih bisa mencerdaskan juga lah ya..*ngarep!* *padahal juga masih jarang-jarang dengerinnya*

Iklan

Konser Musik Klasik ARTIES

Sabtu malam 9 November lalu saya bareng Five nonton konser musik klasik di auditorium Institute Francais Indonesia alias Lembaga Indonesia-Perancis(LIP). Penampilnya adalah empat orang musisi dari Perancis yang tergabung dalam kelompok “ARTIES”. Nama yang sepenuhnya asing bagi saya. Setelah sampai di venue dan mendapatkan leaflet barulah saya tahu sedikit informasi tentang Arties.

Mereka merupakan sekumpulan musisi yang berasal dari orkestra-orkestra Eropa ternama, pemenang berbagai kompetisi internasional dan musisi tamu berbagai festival bergengsi. Mereka berkumpul karena memiliki passion dan kesenangan yang sama akan musik kamar dan telah keliling dunia untuk mempromosikannnya. Salah satunya mempromosikan musik kamar Perancis ke generasi muda di India dengan menyelenggarakan festival keliling yang sudah dilakukan sejak 11 tahun lalu.

Musik kamar atau Chamber Music adalah musik klasik yang dulunya dimainkan di ruang yang tidak begitu luas, biasanya dimainkan oleh beberapa pemain solo untuk raja atau bangsawan. Ringkasnya, musik kamar merupakan musik klasik yang dimainkan orkestra kelompok kecil *CMIIW*

Sekarang ini, musik kamar sudah dipentaskan kepada orang banyak secara terbuka, bisa dinikmati semua kalangan dan tidak terbatas pada tempat tertentu.

* * *

Konser malam itu dibuka oleh seorang wanita bule yang berkata-kata dalam bahasa romantis-bahasa perancis yang hanya dia, Tuhan dan segelintir orang di auditorium yang tahu. Saya yang ngertinya  bonjour sama  je t’aime doank cuma bisa mendengar sebagai kalimat-kalimat kosong saja. Beruntung berikutnya ada MC lain yang menjelaskan dengan bahasa persatuan. MC kedua itu menjelaskan sekilas profil Arties dan beberapa aturan saat konser.

Salah satu aturannya, penonton dilarang merekam dan mengupload hasil rekaman di internet(cuma boleh ambil foto). Dan aturan yang luar biasa adalah penonton dibolehkan bertepuk tangan kapan saja, nggak harus nunggu satu komposisi selesai dimainkan. Jadi kalau penonton merasa ada bagian penampilan Arties yang berkesan, silakan langsung tepuk tangan saja. Bisa dibilang aturan ini keluar dari protokol konser musik klasik biasanya, menarik 🙂 .

Setelah MC kedua selesai membuka konser, masuklah 4 orang menuju panggung. Saya agak bertanya-tanya saat itu karena yang 3 itu bule tapi yang satu lagi muka dan postur tubuhnya sangat domestik. Setelah mereka duduk dan memegang alat musik, baru jelas kalau yang 3 itu adalah pianist, cellist dan violinist(Sullimann Altmayer). Sementara yang non-bule merupakan page-turner, membantu pianist(Romain Descharmes) membalik kertas partiturnya saat sedang main piano. *Lha terus anggota Arties yang satu lagi kemana, di leaflet gambarnya ada 4 pemain?* Begitulah saya masih bertanya-tanya lantaran mereka yang di panggung itu langsung memulai konser bertiga saja. *Ternyata di awal konser mereka memang main Trio dulu*

Penampilan Arties(Trio)

Penampilan Arties(Trio)

Kurang lebih 3 karya mereka mainkan sebelum akhirnya sang Cellist(Gauthier Herrmann) memberikan sepatah-duapatah kata, yang untungnya tidak dalam bahasa Perancis. Katanya ini adalah bagian dari tur mereka di Asia, mereka akan membawakan beberapa karya dalam format Trio dan Quartet. Ketika itu dia juga mempersilakan untuk tepuk tangan kapan saja penonton suka dan ia mengakhiri sambutannya dengan mengundang seorang lagi anggota Arties ke panggung untuk melanjutkan konser dalam format quartet.

Arties saat bersiap-siap untuk tampil quartet

Arties saat bersiap-siap untuk tampil quartet

Anggota Arties yang naik panggung terakhir adalah seorang violist(pemain viola) dan dia sangat menarik perhatian saya hahaha Namanya Julien Dabonneville. Saya suka sekali posturnya saat memainkan violanya *salah fokus*

Arties

Arties

Saya lebih suka permainan quartet mereka, musiknya terasa lebih komplit dan menyatu hehehe..saya memang nggak berkompeten untuk berkomentar soal musik klasik. Tapi menurut saya penampilan mereka sangat “hidup” dan sama sekali tidak membosankan. Apalagi mereka tidak sepenuhnya memainkan musik yang klasik total, ada juga lagu “Jai Ho” dan beberapa lagu bernuansa India yang mereka mainkan.

Arties juga menyelipkan improvisasi dengan unsur komedi di sela permainan yang membuat penonton tergelak atau spontan bertepuk tangan. Dasarnya nggak biasa dengan aturan yang “luar biasa’ soal bertepuk tangan, penonton yang ‘saklek’ masiiih saja ada yang ber-“Sshhhhtt!!” menyuruh tenang, padahal Arties-nya saja sudah membebaskan untuk mengapresiasi dengan bertepuk tangan kapanpun.

Sepertinya Arties mengesampingkan protokol konser musik klasik agar lebih ‘dekat’ dengan penikmatnya. Mereka mencoba membuat musik klasik yang disajikannya tidak terlalu kaku dan berjalan spontan.

Sullimann – Romain Descharmes – Gauthier Herrmann – Julien Dabonneville^^

Malam itu saya dan Five terbilang cukup beruntung bisa dapet tempat duduk, padahal datangnya mepet jam pertunjukan. Ini karena pintu masuk auditorium baru dibuka sekian menit sebelum pertunjukan dimulai. Penonton yang datang cukup banyak saat itu, sampai ada yang lesehan dan berdiri di lorong antarkursi. Bahkan kata MC, auditorium LIP nggak pernah seramai itu. Wajar sih, konser musik klasik memang cukup jarang, apalagi yang penampilnya dari luar negeri, terbuka untuk umum dan gratis. *Yaampun, konser sebagus ini bisa dinikmati secara cuma-cuma (>.<)*
*Thank you 5!*

Landung Simatupang Membaca Arjunawiwaha

“Yang lain lagi bersandar pada paha, lalu bertopang dagu, bertelekan, membelalak, menyimak pesona daya tarik asmara Arjuna yang ditemuinya pada mata. Tak mengerti ia, pandangan sang muda yang mahir ilmu dan olah asmara itu menyingkiri si bidadari. Bagai pedupaan dari timah, hati bidadari ini lumer, leleh oleh api asmara.”

Demikian sedikit penggalan naskah Arjunawiwaha yang dibacakan oleh Landung Simatupang di pendapa rumah budaya Tembi, Bantul, Yogyakarta 3 September 2013.

Landung Simatupang membaca Arjunawiwaha

Landung Simatupang membaca Arjunawiwaha

Pentas Baca tentang kisah Arjuna yang bergeming saat diuji oleh bidadari-bidadari super-duper cantik utusan Batara Indra tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati 40 hari meninggalnya Romo Kuntara Wiryamartana SJ.

Romo Kuntara(Romo Kun) adalah seorang pakar Sastra Jawa Kuna dan seorang rohaniwan Katolik. Semasa hidupnya beliau pernah menjadi dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM dan kalau saya lihat di Wikipedia, beliau juga dikatakan pernah mengajar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Sebenarnya saya tidak mengenal Romo Kun. Baru malam itulah saya mengetahui tentang beliau dan setitik perjalanan hidupnya sebagai pakar sastra lewat penuturan kerabat dan kawan beliau saat membuka acara. Saya datang dengan intensi ingin nonton teman-teman Unit Kegiatan Mahasiswa(UKM) Seni Karawitan Sanata Dharma yang diajak oleh Landung Simatupang untuk mengiringi pembacaan naskahnya dengan gamelan. Alasan lainnya adalah karena saya ingin nonton Landung Simatupang plus ingin datang ke Rumah Budaya Tembi. Sudah lama saya nggak nonton acara seni/budaya. Sudah lama nggak mencium wangi bunga sesaji dan aroma dupa yang sangat menenangkan *Sesaji dan dupa di acara budaya lho yaa bukan yg mistis-mistis itu* 😀

Malam itu saya dan beberapa teman datang awal, bahkan sampai di Rumah Budaya Tembi kursi penonton di pendopo belum satupun terisi. Sembari menunggu, kami lalu menemui teman-teman pengrawit(pemain gamelan) dulu di salah satu ruangan Tembi. Pas keluar lagiiii..pendoponya sudah penuh. Jadi kebagian duduk di bagian samping pendopo, tapi masih cukup kondusif buat mengikuti acaranya sih dan masih bisa lihat Landung Simatupang dengan jelas.

Saya nggak tahu banyak juga tentang Landung Simatupang. Saya cuma tahu kalau beliau merupakan seorang aktor dan sutradara teater yang tinggal di Yogyakarta. Beliau juga seorang penyair. Arjunawiwaha yang dibacakannya malam itu adalah naskah yang disusunnya berdasarkan terjemahan Romo Kun dari Kakawin Arjunawiwaha karangan Mpu Kanwa. Kata demi kata dalam naskah yang dibacakan Landung sangat menarik, nggak lugas tapi tetap mudah dipahami karena gaya tutur beliau juga berbeda-beda menyesuaikan karakter tiap tokoh dalam naskah.

Salah satu sudut Rumah Budaya Tembi
Jl. Parangtritis Km 8,4 Bantul

Festival Sekar Geni 2013

Sekar (Bhs Jawa) dalam bahasa Indonesia artinya Bunga, sedangkan Geni artinya Api. Jadi, Sekar Geni = Bunga Api. Kalau secara harafiah memang jadinya Festival Bunga Api 😀 😀 tapi bukan itu maksudnya karena Sekar Geni di sini adalah akronim dari Seni Karawitan Gending Gerejani, sebuah titel acara pertunjukan yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Karawitan Universitas Sanata Dharma (USD). Konsepnya adalah menampilkan gending(lagu) gerejani yang syairnya dinyanyikan oleh koor dan diiringi gamelan.

Kalau di Jawa, terlebih Jogja memang masih banyak ibadat di gereja yang menggunakan bahasa Jawa dan lagu yang diiringi gamelan. Jadi pasti ada kelompok khusus yang sudah biasa membawakan gending gerejani. Dalam festival ini, kelompok-kelompok penampil membawakan gending gerejani dengan lirik berbahasa Indonesia agar lebih bisa dinikmati.

Acara yang diikuti 12 peserta ini diselenggarakan pada hari Minggu 19 Mei 2013 lalu di panggung Realino kampus Sanata Dharma Mrican. Peserta tidak hanya dari beberapa paroki di Jogja tapi ada juga dari Magelang dan dari Gereja Kristen Jawa. Selain dari peserta, ada juga penampilan dari UKM Seni Karawitan Sanata Dharma sendiri serta bintang tamu dari Himpunan Mahasiswa Seni Karawitan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja, tarian dari UKM Grup Tari Sanata Dharma(Grisadha) dan tari Bali dari mahasiswa ISI.

HMJ Karawitan ISI Jogja

Tari Jagones oleh UKM Grisadha

Tari Kebyar Duduk oleh Mahasiswa ISI Jogja

Acara yang bertepatan dengan hari Pentakosta ini bukan lomba tapi merupakan sebuah sarana berekspresi, tempat memainkan gending gerejani di luar ibadat gereja. Dengan adanya acara ini juga diharapkan bisa menambah semangat pengrawit gending gerejani dan menumbuhkan peminat dan pengrawit baru. *Hari gini menumbuhkan minat ke karawitan/gamelan itu memang bukan hal mudah*. Lebih dari itu, Festival Sekar Geni bertujuan untuk memberikan penghargaan kepada perintis gending gerejani.

Rektor USD memberi penghargaan kpd Bapak Sukodi
*Romo Rektor kayaknya barusan Jogging nih :D*

Gending gerejani pertama kali dirintis tahun 1925 oleh Bapak Alm. C. Hardjasoebrata (Sumber: brosur acara). Awalnya gending gerejani malah hanya dimainkan di luar ibadat gereja. Namun 30 tahun kemudian Mgr Sugijapranata membentuk tim gending gerejani untuk iringan ibadat gereja. Bapak Alm. C. Hardjasoebrata  tergabung dalam tim tersebut bersama Bapak Sukodi.

Bapak Sukodi merupakan pencipta gending Nata Agung yang dulu pertama kali diperdengarkan saat menyambut Ir Soekarno datang ke kampus Sanata Dharma 52 tahun silam.

Pada kesempatan ini penyelenggara memberikan penghargaan kepada kedua tokoh tersebut sebagai penggiat seni karawitan gending gerejani.

Bapak Sukodi & Salah satu putri Bapak Alm. C. Hardjasoebrata

Paroki St. Antonius Muntilan saat membawakan gending Nata Agung
*Full Power Mode On 😀 *

Meski saya kurang familier dengan gending yang dibawakan *soalnya di gereja saya nggak ada ibadat dengan bahasa jawa dan iringan gamelan* tapi saya menikmati acara ini. Rasanya kagum melihat pengrawit dari mulai yang kesil usia SD, pemuda-pemudi, sampai yang kakek nenek memainkan gamelan dan bernyanyi. Mereka, selain mengembangkan bakat seni juga sekaligus mengungkapkan religiusitas, sesuai tagline-nya bersyukur dalam nada dan irama gamelan.

Ini merupakan Festival Sekar Geni perdana yang diagendakan bakal diselenggarakan tiap tahun oleh  UKM Seni Karawitan Sanata Dharma. Meski acara ini tidak bersifat kompetisi, semua peserta terlihat menampilkan yang terbaik. Semoga selanjutnya semakin baik.

.:: Auf Wiedersehen

Orchestra Concert with Guest Conductor Kanako Abe

Sabtu malam tanggal 13 April kemarin saya nonton konser orkestra lagi. Masih di tempat yang sama saat saya nonton f-hole string orchestra concert yakni di Concert Hall kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja. Bareng orang yang sama juga, si penggemar waferwink lupine. Bedanya kali ini tidak string concert tapi full orchestra concert.

Konser ini bertajuk Gala Concert with Guest Conductor Ms. Kanako Abe. Diselenggarakan oleh Kelompok Kegiatan Mahasiswa(KKM) Orkes Mahasiswa(OM) ISI. Well, saya juga nggak kenal siapa Kanako Abe tapi dari namanya, beliau pasti orang Jepang.

Selain menghadirkan konduktor dari luar negeri, yang menarik adalah konser ini gratis. Ini membuktikan kalau konser orkestra ditujukan untuk berbagai kalangan dan bisa dinikmati oleh siapa sajathumb up lupine. That’s why I love Jogja so much. Banyak event bermutu di kota ini yang tidak melulu bertujuan komersil. Banyak acara seni-budaya yang bisa diapresiasi tanpa dipungut biaya.

Curhat dikit: Malam itu pulang dari gereja, kami langsung menuju lokasi. Kami tidak telat, konsernya belum mulai, baru sambutan *ini telat juga ya namanya? hehehe*. Saat mengisi buku tamu kami diberitahu bahwa concert hall sudah penuh *resiko acara gratisan -peminatnya banyaak*. Jadi kami langsung menuju tribunnya untuk menonton dari atas. Di sana tidak kalah penuh, banyak orang berdiri padahal sebagian kursinya masih kosong. Belakangan, setelah saya menempati kursi itu, saya tahu kenapa kursinya kosong. Karena kalau menempati kursi itu nggak bisa melihat panggungnya kecuali berdiri. Padahal itu masih kursi deretan depan lhosad lupine.

Saya jadi merasa tribun ini malafungsi. Bagaimana bisa duduk di tribun deretan depan tapi panggungnya tidak terlihat secara keseluruhan?? Alhasil penonton banyak yang berdiri atau maju ke depan memilih duduk melantai di belakang pagar tribun, meskipun tanpa kursi yang pasti dari situ panggungnya bisa terlihat.

Nonton dari Atas

Saat itu saya pun lebih sering berdiri agar bisa melihat Ms Kanako Abe rose lupine. Beliau ini memang memiliki gaya conducting yang menarik. Tangannya lincah, wajahnya ekspresif, dan gerak tubuhnya seperti mampu mengajak semua  anggota orkestra untuk bermain powerful tapi tetap pakai hati.

Kanako Abe adalah wanita kelahiran Osaka yang memulai debutnya sebagai konduktor sejak 2003*bookletnya bilang begitu*. Malam itu, Beliau bersama anggota OM ISI membawakan 3 repertoire yaitu  il Barbiere di Segvilia milik Rossini, Peer Gynt Suita no 1 karya Edward Grieg dan Simfoni no. 8 dari Antonin Dvorak. Repertoire ketiga ini paling panjang karena terdiri dari 4 movement.
Di penghujung acara, ada pertunjukan spesial berupa paduan suara yang dipersembahan untuk Ms Kanako Abe. Paduan suara ini milik Kazuko Abe, Ibu dari Kanako Abe. Tak heran semua anggota paduan suara itu sudah ‘berumur’. Mereka menyanyikan lagu Bengawan Solo diiringi piano. Pertunjukan itu pun mengundang tepuk tangan seisi concert hall. Sekaligus mengundang tawa karena mereka seperti membawakan Bengawan Solo dalam logat Batak. Semua abjad ‘e’ dalam liriknya dibaca seperti membaca huruf ‘e ‘pada kata ‘lele’.Selain bengawan Solo mereka juga menyanyikan lagu berbahasa Jepang *entah apa saya nggak mudheng*

Tapi tetep, bagi saya semuanya keren, salut sama mereka yang bisa kerjasama dan tampil bareng Ms. Kanako Abe. Katanya mereka akan mengadakan konser lagi bulan September mendatang.

.:: Auf Wiedersehensmile lupine

Sewindu Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta

Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) adalah serangkaian acara kebudayaan Tionghoa untuk memeriahkan tahun baru imlek yang diselenggarakan di Chinatown-nya Yogyakarta, Kampung Ketandan. Tahun 2013 ini PBTY telah diselenggarakan pada 20-24 Februari lalu dan di tanggal 22 saya berkesempatan mengunjunginya. Ini pertama kalinya saya ke PBTY padahal event ini sudah diselenggarakan tiap tahun sejak delapan tahun silam *Ampun DJ, kemana saja saya selama ini??*

Sebagai salah satu event untuk meramaikan tahun baru imlek, banyak kekhasan budaya Tionghoa yang ditampilkan di PBTY ini seperti pertunjukan Barongsai, Bazzar makanan khas imlek, lomba karaoke lagu mandarin, pameran pernak-pernik Cina, dan lain-lain. Namun keunikan PBTY tahun ini adalah Tumpeng Raksasa yang diajukan untuk memecahkan rekor MURI. Selain itu, di PBTY tahun ular ini ada acara peresmian gapura “Kampoeng Ketandan”. Gapuranya sangat mencerminkan akulturasi budaya Tionghoa-Jawa, bertuliskan “Kampoeng Ketandan” yang juga dituliskan dalam hanacaraka(huruf Jawa) dan huruf mandarin, ada pula lambang kraton Jogja dan hiasan ukiran naga. Sayang sekali saya nggak punya fotonya tapi kalau sedang jalan-jalan di malioboro Anda bisa melihat gapura ini di samping Ramayana Dept. Store. Yup! di sanalah Kampung Ketandan berada.

Waktu itu saya masuk Ketandan melewati gapura tersebut dan menyusuri bazzarnya. Area bazzar yang berupa jalan kecil itu sudah ditutup tendaJadi meski saat itu hujan, pengunjung tetap bisa menikmati bazzar tanpa khawatir basah kehujanan.

PBTY 2013

So crowded

Baru beberapa langkah memasuki bazzar itu, mata saya langsung tertuju pada Bakcang *harusnya pada cowok cakep nih biar dramatis..haha!*. Bakcang(Bacang) merupakan panganan tradisional orang  Tionghoa yang terbuat dari beras ketan. Menurut Wiki, bakcang secara harafiah artinya adalah “berisi daging babi” (Bak=babi). Namun di sini bakcang ada juga yang isi ayam. Murah! cuma 8ribu sebiji dan rasanya enak *saya ini apa sih yang nggak enak??*

Akong & Ama Penjual Bakcang

Akong & Ama Penjual Bakcang

Saya, Bakcang dan Gerobaknya :D

Saya, Bakcang dan Gerobaknya 😀

Bakcang : 1 isi Babi 1 isi Ayam

Bakcang : 1 isi Babi 1 isi Ayam *gomen, dalemnya nggak kelihatan*

PTBY 2013

Lebih jauh menyusuri bazzar adalah ujian bagi yang doyan jajan. Sebaiknya jangan datang dalam kondisi lapar karena stan makanannya banyak banget dan beraneka rupa.

Memang banyak makanan khas Imlek atau Chinese food yang ditawarkan, tapi jajanan umum seperti burger, sosis panggang, bahkan kerak telor juga ada di sini.

Aneka Bakpao

Aneka Bakpao

Selain stan makanan, ada stan di bazzar ini yang menarik bagi saya yaitu stan penjual pernak-pernik semacam “fortune teller” ala Chinese berupa gantungan-gantungan bentuk naga, sempoa, lonceng dsb. semua bernuansa gold dan merah. PTBY 2013

Saya akhirnya tertarik dan membeli sebuah gantungan kucing. Agak sial karena waktu beranjak ke stan di sebelahnya ternyata gantungan kucing yang sama dihargai 3kali lipat lebih murah.

Kucing *tapi saya merasa agak mirip babi*

Gantungan yg saya beli.
Kucing! *tapi rasanya agak mirip babi*

Setelah membeli kucing kebabi-babian itu saya nonton lomba karaoke mandarin sebentar, masih di area bazzar juga. Pesertanya lagi nyanyi Tien Mi Mi.

PTBY 2013Jadi inget waktu SMP sering banget saya denger lagu ini di puter di radio. Zaman itu saya suka sekali mendengarkan lagu mandarin. Saya memang tertarik pada lagu mandarin, jepang atau korea dan terbilang gampang hafal juga tapi saya nggak bakat nyanyi..hiks hiks.. *Lha?? malah surhat*

Lanjut menyusuri bazzarnya, ada lagi keunikan khas Cina yang bisa dinikmati pengunjung yaitu Wayang Poo Tay Hie (Potehi). Ini adalah pertunjukan wayang boneka yang terbuat dari kain. Untuk memainkannya, sang dalang memasukkan tangannya ke dalam boneka tersebut dan kemudian bercerita layaknya dalang pada umumnya. Saat itu saya kurang tahu ceritanya karena hanya menikmatinya sebentar sambil duduk melepas pegal.

Wayang Potehi *itu wayangnya yg Boneka warna ungu dan merah*

Wayang Potehi
*itu wayangnya yg Boneka warna ungu dan merah*

Oh iya, saya senang sekali karena ada stan jajanan kesukaan saya di bazzar ini. Cakwe! tapi karena saat itu sedang ramai pembeli, saya memutuskan untuk membelinya kalau saya sudah mau pulang nanti. Daaan…waktu mendatangi stan cakwe itu lagi saat mau pulang, saya baru tahu kalau untuk membelinya harus pakai nomor antrian *alamak! macam mau bayar listrik sajo*. Saya dapat nomor antrian 114, harus menunggu cakwe dibuat dan digoreng dulu. Saat itu antrian sudah sampai 104 dan saya masih tergolong beruntung karena beberapa antrian di belakang saya sudah tidak kebagian cakwe lagi karena habis. Cakwenya memang enak, nggak sia-sia ngantrinya.

Cakwe PTBY dan nomor antrian saya *fyuh*

Cakwe PBTY dan nomor antrian saya *fyuh*

Bagi saya, kebudayaan Tionghoa dan kemeriahan perayaan tahun baru imlek di manapun itu memang selalu menarik. Semoga di tahun ular ini kita semua semakin sejahtera, bahagia, enteng jodoh, enteng rejeki *tetep yaa doanya nggak jauh-jauh dari jodoh dan rejeki 😀 *.

PBTY 2013

.:: Auf Wiedersehen

F-Hole String Orchestra Concert : Early 20th Century Music

Orkestra identik dengan musik klasik dan kesan terhadap musik klasik biasanya adalah  membosaankan, bikin ngantuk, udah gitu mahal pula. Well, setiap orang memang memiliki selera musik masing-masing dan cenderung berkiblat pada aliran musik tertentu, tergantung musik apa yang akrab ditelinganya. Namun kalau kita mau membuka telinga untuk mengenal beragam genre musik, pasti kita bisa menemukan kesan positifnya. Pada musik klasik juga begitu, kalau kita mau ‘buka telinga’ pasti kita bisa menikmatinya. Pertunjukan musik klasik oleh kelompok orkestra bisa dibilang jarang ditemui (dibanding band atau dangdut misalnya). Biasanya diselenggarakan di pusat budaya negara asing atau sekolah musik. Beruntung di Jogja ini saya punya kesempatan menikmati konser orkestra. Konser ini bertajuk  f-Hole String Orchestra Concert 2013 “Early 20th Century Music”. Diselenggarakan oleh f-Hole String Orchestra, organisasi mahasiswa fakultas seni pertunjukan Institus Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Waktu itu saya menontonnya bersama seorang penggemar wafer, 23 Februari 2013 lalu.

Pada saat publikasinya dikatakan bahwa dalam konser ini akan ditampilkan karya-karya jaman modern abad 20 dari beberapa komposer seperti Gustav Holst, Jeff Manookian, Gorge Gershwin dan Budhi Ngurah. Benar-benar nama yang asing buat saya karena memang sebenarnya saya sangat awam soal musik klasik. Satu-satunya referensi musik klasik saya hanyalah karya-karya Johann Sebastian Bach (Bach) yang saya dengarkan setelah menonton drama Jepang Nodame Cantabile, yang diangkat dari manga berjudul sama. Ceritanya tentang orkestra, mahasiswa sekolah musik dan karya-karya musik klasik. Saat menonton drama inipun saya cuma tau Beethoven, Mozart dan Bach. Tentu saja cuma tau sebatas nama. Meski mengandung komedi ala jepang yang agak lebay, ceritanya menarik! sangat menarik..*koq jadi nyeritain ini sih*.

Malam itu kami berdua datang terlambat ke Concert Hall ISI, lokasi pertunjukan. Selain jauh dari tempat saya, kami gagal mengantisipasi ramainya jalanan Jogja di malam minggu,  plus hujan, ditambah lagi  jalan yang biasanya kami lalui untuk menuju ISI ditutup karena ada puncak perayaan Cap Go Meh. Untung saja sesampainya di TKP kami masih dapat tiket yang hanya di jual on the spot itu. Fyuh…

Setelah mengisi buku tamu kami nggak bisa langsung masuk begitu saja ke hall, karena pertunjukan sudah dimulai. Penonton yang datang telat harus menunggu sampai selesai 1 repertoar baru diizinkan masuk. Saya maklum sih, penonton telat itu mengganggu, mau nggak mau saat masuk ruangan pasti menjadi ‘pusat perhatian sesaat’, mengalihkan fokus penonton atau bahkan pemusik.

Saat diperbolehkan masuk, kami mencari tempat dan mendapat spot yang cukup nyaman, agak di tengah dan tidak terlalu di depan.

Musik pun terdengar mengalun (kembali)…..

f-hole ISI yogyakarta

Karya ke-4 dimainkan. Lullaby – Arranger : Jeff Manookian. Yep! saya ketinggalan 3 buah penampilan di sesi pertama. Konser ini dibagi jadi 2 sesi. Ada 5 karya musik yang ditampilkan di sesi pertama dan 3 di sesi kedua.

Baru datang langsung disuguhi Lullaby tapi saya sama sekali nggak ngantuk karena saya sangat excited menonton konser ini. Meski awam soal musik klasik tapi saya adalah fans berat alat musik bersenar dan sangat kagum pada pemain alat musik bersenar. Dan yang saya saksikan ini adalah String Orchestra Concert. Selain konduktor, semuanya adalah  pemain alat musik bersenar. Tiga puluh lima orang memainkan Violin, Viola, Cello dan Contra bass. Benar-benar bagai fans ketemu idolanya. 😀

Kelompok orchestra ini berkolaborasi juga dengan pemain solo violin, solo cello dan solo contra bass. Pada saat memainkan Lullaby, f-hole berkolaborasi dengan M. Januar Affandi yang menampilkan permainan solo violin.

Setelah Lullaby adalah suguhan berjudul Concertino yang merupakan karya Budhi Ngurah sang konduktor. Dari brosur, saya dapet info kalau ini adalah pertama kalinya karya ini dimainkan di hadapan publik(premier concert). Concertino disajikan bersama solo cello dari Ade Sinata, lulusan Sekolah Menengah Musik(SMM) Jogja yang tergabung dalam Twilite Orchestra pimpinan Adie MS. Anggota Twilite Orchestra lain, Danny juga ikut serta dalam konser ini. Dia memainkan violin.

Solo Cello Ade Sinata
Concertino with Solo Cello by Ade Sinata

Concertino pada beberapa bagiannya terdengar seperti musik/lagu Jawa di telinga saya *hehe..komen amatir*.

Concertino ini menyudahi sesi 1. Sebelum sesi 2 dimulai, diberikan jeda 10 menit.

Break Time
Break Time

Sepuluh menit kemudian sesi kedua dimulai. St. Paul’s Suite dari Gustav Holst dibawakan. Karya ini terdiri dari beberapa bagian, durasinya cukup panjang.
f-hole ISI yogyakarta

Penampilan berlanjut dengan dibawakannya Elegy of Layonsari. Dari namanya kelihatan donk kalau ini bukan karya asing? Karya ini memang merupakan karya dari Budhi Ngurah, Premier Concert juga. Berlatar belakang cerita rakyat di Bali tentang kisah cinta menyedihkan antara Layonsari dengan Jayaprana. Adalah Raja kalianget yang terpesona pada kecantikan Layonsari istri dari anak angkatnya sendiri, Jayaprana. Karena ingin memiliki Layonsari, sang raja membunuh Jayaprana. Layonsari yang mengetahui kejadian itu sangat sedih lalu bunuh diri demi kesetiaannya pada Jayaprana dan mempertahankan  harga dirinya sebagai wanita (sumber : brosur konser). Elegy of Layonsari ini menggambarkan kesedihan Layonsari. Saat mendengarnya memang sangat terasa musik sedihnya. Tanpa membaca deskripsinya pun saya rasa bisa ditangkap kalau karya ini menggambarkan kesedihan. Efek sedih ini juga didukung permainan solo contra bass dari Agung Prasetyo, dosen ISI.

Karya yang ditampilkan setelahnya merupakan penutup konser ini. Berjudul Ararat dance-tarian khas rakyat Armenian. Ini juga berdurasi panjang karena terdiri dari 5 bagian tapi sangat keren, eh indah, yah apapun itulah bahasanya *lagi-lagi komentar amatir*.

Closing

Pengalaman menonton konser orkestra ini menyenangkan buat saya. Berharap besok-besok bisa berkesempatan menyaksikan konser semacam ini lagi. Dari pengalaman saya ini, ada beberapa hal(semacam etika) yang saya bisa simpulkan dan perlu diperhatikan saat menonton orchestra concert:

1. Dilarang telat

Sebenernya nggak cuma konser orkestra saja. Ini berlaku untuk pertunjukan apapun. Tapi lebih-lebih konser orkestra karena kalau kita telat, kita harus menunggu sampai satu repertoar selesai baru diperbolehkan masuk. Pada pertunjukan orchestra 1 repertoar bisa berlangsung lebih dari 15 menit, sayang kan? So sebaiknya datang lebih awal, karena menikmati suatu pertunjukkan secara komplit pasti lebih baik.

2. Stay focus and just enjoy the show

Sebaiknya saat nonton konser orkestra kita fokus menonton saja. Anggaplah seperti menonton film bioskop. Diusahakan jangan mengurusi HP atau sosmed saat pertunjukan berlangsung, kurangi ngobrol dan foto-foto*saya juga cuma ambil foto sedikit koq, suwer..hehe*. Menikmati musik klasik memang membutuhkan fokus, selain agar bisa terasa keindahannya kalau kita fokus nggak akan ngantuk. Tapi ya, nggak usah berlebihan dan terlalu serius *maunya gimana sih ini??*. Yah, intinya kita menonton konser sebagai hiburan, kan? jangan sampai kita nggak terhibur karena nggak fokus nonton dan jangan sampai kita malah tambah pusing karena terlalu serius.

3. Tepuk tangan

Bagi yang gumunan(gampang terkagum-kagum) dan gampang menyalurkan kekagumannya itu dengan tepuk tangan keras-keras harus memperhatikan etika satu ini. Bahwa kalau menonton konser musik klasik kita nggak bisa tepuk tangan seenaknya, semau udel dan kedua telapak tangan kita sendiri. Biasanya dalam satu karya yang ditampilkan terdiri dari beberapa bagian/movement. Penonton tidak seharusnya bertepuk tangan saat movement selesai, tapi harus menunggu sampai semua movement selesai ditampilkan dan setelah konduktor menghadap ke audience.

4. Jeda

Dalam pertunjukkan konser orkestra akan ada jeda. Baik penonton maupun pemusik diberi kesempatan buat rehat sebentar *rehat yaa bukan tiduur*. Saat jeda ini bisa dimanfaatkan buat ngulet-ngulet, minum air, buang air, dan lain-lain.

5. Berpakaian yang sesuai

Setiap orang memang punya gaya berpakaian sendiri-sendiri. Namun belum tentu setiap orang tahu gaya pakaian yang sesuai even. Menonton orkestra memang nggak menuntut pakaian khusus tapi jangan sampai salah kostum. Misalnya jangan pakai topi yang bisa menutupi pandangan penonton lain dan sebagainya dan sebagainya *males njelasin..haha* see yaa!

.:: Auf Wiedersehen