F-Hole String Orchestra Concert : Early 20th Century Music

Orkestra identik dengan musik klasik dan kesan terhadap musik klasik biasanya adalah  membosaankan, bikin ngantuk, udah gitu mahal pula. Well, setiap orang memang memiliki selera musik masing-masing dan cenderung berkiblat pada aliran musik tertentu, tergantung musik apa yang akrab ditelinganya. Namun kalau kita mau membuka telinga untuk mengenal beragam genre musik, pasti kita bisa menemukan kesan positifnya. Pada musik klasik juga begitu, kalau kita mau ‘buka telinga’ pasti kita bisa menikmatinya. Pertunjukan musik klasik oleh kelompok orkestra bisa dibilang jarang ditemui (dibanding band atau dangdut misalnya). Biasanya diselenggarakan di pusat budaya negara asing atau sekolah musik. Beruntung di Jogja ini saya punya kesempatan menikmati konser orkestra. Konser ini bertajuk  f-Hole String Orchestra Concert 2013 “Early 20th Century Music”. Diselenggarakan oleh f-Hole String Orchestra, organisasi mahasiswa fakultas seni pertunjukan Institus Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Waktu itu saya menontonnya bersama seorang penggemar wafer, 23 Februari 2013 lalu.

Pada saat publikasinya dikatakan bahwa dalam konser ini akan ditampilkan karya-karya jaman modern abad 20 dari beberapa komposer seperti Gustav Holst, Jeff Manookian, Gorge Gershwin dan Budhi Ngurah. Benar-benar nama yang asing buat saya karena memang sebenarnya saya sangat awam soal musik klasik. Satu-satunya referensi musik klasik saya hanyalah karya-karya Johann Sebastian Bach (Bach) yang saya dengarkan setelah menonton drama Jepang Nodame Cantabile, yang diangkat dari manga berjudul sama. Ceritanya tentang orkestra, mahasiswa sekolah musik dan karya-karya musik klasik. Saat menonton drama inipun saya cuma tau Beethoven, Mozart dan Bach. Tentu saja cuma tau sebatas nama. Meski mengandung komedi ala jepang yang agak lebay, ceritanya menarik! sangat menarik..*koq jadi nyeritain ini sih*.

Malam itu kami berdua datang terlambat ke Concert Hall ISI, lokasi pertunjukan. Selain jauh dari tempat saya, kami gagal mengantisipasi ramainya jalanan Jogja di malam minggu,  plus hujan, ditambah lagi  jalan yang biasanya kami lalui untuk menuju ISI ditutup karena ada puncak perayaan Cap Go Meh. Untung saja sesampainya di TKP kami masih dapat tiket yang hanya di jual on the spot itu. Fyuh…

Setelah mengisi buku tamu kami nggak bisa langsung masuk begitu saja ke hall, karena pertunjukan sudah dimulai. Penonton yang datang telat harus menunggu sampai selesai 1 repertoar baru diizinkan masuk. Saya maklum sih, penonton telat itu mengganggu, mau nggak mau saat masuk ruangan pasti menjadi ‘pusat perhatian sesaat’, mengalihkan fokus penonton atau bahkan pemusik.

Saat diperbolehkan masuk, kami mencari tempat dan mendapat spot yang cukup nyaman, agak di tengah dan tidak terlalu di depan.

Musik pun terdengar mengalun (kembali)…..

f-hole ISI yogyakarta

Karya ke-4 dimainkan. Lullaby – Arranger : Jeff Manookian. Yep! saya ketinggalan 3 buah penampilan di sesi pertama. Konser ini dibagi jadi 2 sesi. Ada 5 karya musik yang ditampilkan di sesi pertama dan 3 di sesi kedua.

Baru datang langsung disuguhi Lullaby tapi saya sama sekali nggak ngantuk karena saya sangat excited menonton konser ini. Meski awam soal musik klasik tapi saya adalah fans berat alat musik bersenar dan sangat kagum pada pemain alat musik bersenar. Dan yang saya saksikan ini adalah String Orchestra Concert. Selain konduktor, semuanya adalah  pemain alat musik bersenar. Tiga puluh lima orang memainkan Violin, Viola, Cello dan Contra bass. Benar-benar bagai fans ketemu idolanya.😀

Kelompok orchestra ini berkolaborasi juga dengan pemain solo violin, solo cello dan solo contra bass. Pada saat memainkan Lullaby, f-hole berkolaborasi dengan M. Januar Affandi yang menampilkan permainan solo violin.

Setelah Lullaby adalah suguhan berjudul Concertino yang merupakan karya Budhi Ngurah sang konduktor. Dari brosur, saya dapet info kalau ini adalah pertama kalinya karya ini dimainkan di hadapan publik(premier concert). Concertino disajikan bersama solo cello dari Ade Sinata, lulusan Sekolah Menengah Musik(SMM) Jogja yang tergabung dalam Twilite Orchestra pimpinan Adie MS. Anggota Twilite Orchestra lain, Danny juga ikut serta dalam konser ini. Dia memainkan violin.

Solo Cello Ade Sinata
Concertino with Solo Cello by Ade Sinata

Concertino pada beberapa bagiannya terdengar seperti musik/lagu Jawa di telinga saya *hehe..komen amatir*.

Concertino ini menyudahi sesi 1. Sebelum sesi 2 dimulai, diberikan jeda 10 menit.

Break Time
Break Time

Sepuluh menit kemudian sesi kedua dimulai. St. Paul’s Suite dari Gustav Holst dibawakan. Karya ini terdiri dari beberapa bagian, durasinya cukup panjang.
f-hole ISI yogyakarta

Penampilan berlanjut dengan dibawakannya Elegy of Layonsari. Dari namanya kelihatan donk kalau ini bukan karya asing? Karya ini memang merupakan karya dari Budhi Ngurah, Premier Concert juga. Berlatar belakang cerita rakyat di Bali tentang kisah cinta menyedihkan antara Layonsari dengan Jayaprana. Adalah Raja kalianget yang terpesona pada kecantikan Layonsari istri dari anak angkatnya sendiri, Jayaprana. Karena ingin memiliki Layonsari, sang raja membunuh Jayaprana. Layonsari yang mengetahui kejadian itu sangat sedih lalu bunuh diri demi kesetiaannya pada Jayaprana dan mempertahankan  harga dirinya sebagai wanita (sumber : brosur konser). Elegy of Layonsari ini menggambarkan kesedihan Layonsari. Saat mendengarnya memang sangat terasa musik sedihnya. Tanpa membaca deskripsinya pun saya rasa bisa ditangkap kalau karya ini menggambarkan kesedihan. Efek sedih ini juga didukung permainan solo contra bass dari Agung Prasetyo, dosen ISI.

Karya yang ditampilkan setelahnya merupakan penutup konser ini. Berjudul Ararat dance-tarian khas rakyat Armenian. Ini juga berdurasi panjang karena terdiri dari 5 bagian tapi sangat keren, eh indah, yah apapun itulah bahasanya *lagi-lagi komentar amatir*.

Closing

Pengalaman menonton konser orkestra ini menyenangkan buat saya. Berharap besok-besok bisa berkesempatan menyaksikan konser semacam ini lagi. Dari pengalaman saya ini, ada beberapa hal(semacam etika) yang saya bisa simpulkan dan perlu diperhatikan saat menonton orchestra concert:

1. Dilarang telat

Sebenernya nggak cuma konser orkestra saja. Ini berlaku untuk pertunjukan apapun. Tapi lebih-lebih konser orkestra karena kalau kita telat, kita harus menunggu sampai satu repertoar selesai baru diperbolehkan masuk. Pada pertunjukan orchestra 1 repertoar bisa berlangsung lebih dari 15 menit, sayang kan? So sebaiknya datang lebih awal, karena menikmati suatu pertunjukkan secara komplit pasti lebih baik.

2. Stay focus and just enjoy the show

Sebaiknya saat nonton konser orkestra kita fokus menonton saja. Anggaplah seperti menonton film bioskop. Diusahakan jangan mengurusi HP atau sosmed saat pertunjukan berlangsung, kurangi ngobrol dan foto-foto*saya juga cuma ambil foto sedikit koq, suwer..hehe*. Menikmati musik klasik memang membutuhkan fokus, selain agar bisa terasa keindahannya kalau kita fokus nggak akan ngantuk. Tapi ya, nggak usah berlebihan dan terlalu serius *maunya gimana sih ini??*. Yah, intinya kita menonton konser sebagai hiburan, kan? jangan sampai kita nggak terhibur karena nggak fokus nonton dan jangan sampai kita malah tambah pusing karena terlalu serius.

3. Tepuk tangan

Bagi yang gumunan(gampang terkagum-kagum) dan gampang menyalurkan kekagumannya itu dengan tepuk tangan keras-keras harus memperhatikan etika satu ini. Bahwa kalau menonton konser musik klasik kita nggak bisa tepuk tangan seenaknya, semau udel dan kedua telapak tangan kita sendiri. Biasanya dalam satu karya yang ditampilkan terdiri dari beberapa bagian/movement. Penonton tidak seharusnya bertepuk tangan saat movement selesai, tapi harus menunggu sampai semua movement selesai ditampilkan dan setelah konduktor menghadap ke audience.

4. Jeda

Dalam pertunjukkan konser orkestra akan ada jeda. Baik penonton maupun pemusik diberi kesempatan buat rehat sebentar *rehat yaa bukan tiduur*. Saat jeda ini bisa dimanfaatkan buat ngulet-ngulet, minum air, buang air, dan lain-lain.

5. Berpakaian yang sesuai

Setiap orang memang punya gaya berpakaian sendiri-sendiri. Namun belum tentu setiap orang tahu gaya pakaian yang sesuai even. Menonton orkestra memang nggak menuntut pakaian khusus tapi jangan sampai salah kostum. Misalnya jangan pakai topi yang bisa menutupi pandangan penonton lain dan sebagainya dan sebagainya *males njelasin..haha* see yaa!

.:: Auf Wiedersehen

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s