Landung Simatupang Membaca Arjunawiwaha

“Yang lain lagi bersandar pada paha, lalu bertopang dagu, bertelekan, membelalak, menyimak pesona daya tarik asmara Arjuna yang ditemuinya pada mata. Tak mengerti ia, pandangan sang muda yang mahir ilmu dan olah asmara itu menyingkiri si bidadari. Bagai pedupaan dari timah, hati bidadari ini lumer, leleh oleh api asmara.”

Demikian sedikit penggalan naskah Arjunawiwaha yang dibacakan oleh Landung Simatupang di pendapa rumah budaya Tembi, Bantul, Yogyakarta 3 September 2013.

Landung Simatupang membaca Arjunawiwaha

Landung Simatupang membaca Arjunawiwaha

Pentas Baca tentang kisah Arjuna yang bergeming saat diuji oleh bidadari-bidadari super-duper cantik utusan Batara Indra tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati 40 hari meninggalnya Romo Kuntara Wiryamartana SJ.

Romo Kuntara(Romo Kun) adalah seorang pakar Sastra Jawa Kuna dan seorang rohaniwan Katolik. Semasa hidupnya beliau pernah menjadi dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM dan kalau saya lihat di Wikipedia, beliau juga dikatakan pernah mengajar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Sebenarnya saya tidak mengenal Romo Kun. Baru malam itulah saya mengetahui tentang beliau dan setitik perjalanan hidupnya sebagai pakar sastra lewat penuturan kerabat dan kawan beliau saat membuka acara. Saya datang dengan intensi ingin nonton teman-teman Unit Kegiatan Mahasiswa(UKM) Seni Karawitan Sanata Dharma yang diajak oleh Landung Simatupang untuk mengiringi pembacaan naskahnya dengan gamelan. Alasan lainnya adalah karena saya ingin nonton Landung Simatupang plus ingin datang ke Rumah Budaya Tembi. Sudah lama saya nggak nonton acara seni/budaya. Sudah lama nggak mencium wangi bunga sesaji dan aroma dupa yang sangat menenangkan *Sesaji dan dupa di acara budaya lho yaa bukan yg mistis-mistis itu*😀

Malam itu saya dan beberapa teman datang awal, bahkan sampai di Rumah Budaya Tembi kursi penonton di pendopo belum satupun terisi. Sembari menunggu, kami lalu menemui teman-teman pengrawit(pemain gamelan) dulu di salah satu ruangan Tembi. Pas keluar lagiiii..pendoponya sudah penuh. Jadi kebagian duduk di bagian samping pendopo, tapi masih cukup kondusif buat mengikuti acaranya sih dan masih bisa lihat Landung Simatupang dengan jelas.

Saya nggak tahu banyak juga tentang Landung Simatupang. Saya cuma tahu kalau beliau merupakan seorang aktor dan sutradara teater yang tinggal di Yogyakarta. Beliau juga seorang penyair. Arjunawiwaha yang dibacakannya malam itu adalah naskah yang disusunnya berdasarkan terjemahan Romo Kun dari Kakawin Arjunawiwaha karangan Mpu Kanwa. Kata demi kata dalam naskah yang dibacakan Landung sangat menarik, nggak lugas tapi tetap mudah dipahami karena gaya tutur beliau juga berbeda-beda menyesuaikan karakter tiap tokoh dalam naskah.

Salah satu sudut Rumah Budaya Tembi
Jl. Parangtritis Km 8,4 Bantul

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s