Oktober yang Mendewasakan

I am back..setelah tidak posting apapun di bulan Oktober. Ah, sebenernya saya tetap menulis sih, hanya saja saya setel private lantaran itu cuma sekadar tulisan untuk terapi. ๐Ÿ™‚

Di bulan Oktober 2013 banyak hal saya alami. Beberapa di antaranya memberikan pengertian pada saya bahwa jalan pikiran saya tidak bisa diterima orang lain. Bahwa saya adalah perempuan duapuluh-tahunan yang tidak seharusnya menggunakan pemikiran seperti anak usia belasan.

Dan saya sudah mengerti…benar-benar mengerti,

semoga.

Terimakasih, Oktober…^^

 

 

Landung Simatupang Membaca Arjunawiwaha

โ€œYang lain lagi bersandar pada paha, lalu bertopang dagu, bertelekan, membelalak, menyimak pesona daya tarik asmara Arjuna yang ditemuinya pada mata. Tak mengerti ia, pandangan sang muda yang mahir ilmu dan olah asmara itu menyingkiri si bidadari. Bagai pedupaan dari timah, hati bidadari ini lumer, leleh oleh api asmara.โ€

Demikian sedikit penggalan naskah Arjunawiwaha yang dibacakan oleh Landung Simatupang di pendapa rumah budaya Tembi, Bantul, Yogyakarta 3 September 2013.

Landung Simatupang membaca Arjunawiwaha

Landung Simatupang membaca Arjunawiwaha

Pentas Baca tentang kisah Arjuna yang bergeming saat diuji oleh bidadari-bidadari super-duper cantik utusan Batara Indra tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati 40 hari meninggalnya Romo Kuntara Wiryamartana SJ.

Romo Kuntara(Romo Kun) adalah seorang pakar Sastra Jawa Kuna dan seorang rohaniwan Katolik. Semasa hidupnya beliau pernah menjadi dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM dan kalau saya lihat di Wikipedia, beliau juga dikatakan pernah mengajar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Sebenarnya saya tidak mengenal Romo Kun. Baru malam itulah saya mengetahui tentang beliau dan setitik perjalanan hidupnya sebagai pakar sastra lewat penuturan kerabat dan kawan beliau saat membuka acara. Saya datang dengan intensi ingin nonton teman-teman Unit Kegiatan Mahasiswa(UKM) Seni Karawitan Sanata Dharma yang diajak oleh Landung Simatupang untuk mengiringi pembacaan naskahnya dengan gamelan. Alasan lainnya adalah karena saya ingin nonton Landung Simatupang plus ingin datang ke Rumah Budaya Tembi. Sudah lama saya nggak nonton acara seni/budaya. Sudah lama nggak mencium wangi bunga sesaji dan aroma dupa yang sangat menenangkan *Sesaji dan dupa di acara budaya lho yaa bukan yg mistis-mistis itu* ๐Ÿ˜€

Malam itu saya dan beberapa teman datang awal, bahkan sampai di Rumah Budaya Tembi kursi penonton di pendopo belum satupun terisi. Sembari menunggu, kami lalu menemui teman-teman pengrawit(pemain gamelan) dulu di salah satu ruangan Tembi. Pas keluar lagiiii..pendoponya sudah penuh. Jadi kebagian duduk di bagian samping pendopo, tapi masih cukup kondusif buat mengikuti acaranya sih dan masih bisa lihat Landung Simatupang dengan jelas.

Saya nggak tahu banyak juga tentang Landung Simatupang. Saya cuma tahu kalau beliau merupakan seorang aktor dan sutradara teater yang tinggal di Yogyakarta. Beliau juga seorang penyair. Arjunawiwaha yang dibacakannya malam itu adalah naskah yang disusunnya berdasarkan terjemahan Romo Kun dari Kakawin Arjunawiwaha karangan Mpu Kanwa. Kata demi kata dalam naskah yang dibacakan Landung sangat menarik, nggak lugas tapi tetap mudah dipahami karena gaya tutur beliau juga berbeda-beda menyesuaikan karakter tiap tokoh dalam naskah.

Salah satu sudut Rumah Budaya Tembi
Jl. Parangtritis Km 8,4 Bantul

[KulinerJogja] Hungry Bear

31082013.

Di malam penghujung bulan delapan, saya pergi bareng My Bro dengan rencana mau nyari suatu barang buat temen. Udah ke sini dan ke sana sampai kelaperan tapi nggak juga menemukan barang yang kami cari. Alhasil kami beralih nyari makanan dulu. Itu juga nggak langsung nemu karena bingung mau makan apa dan di mana. Yang jelas kami sepakat mau makan berat (baca; nasi).

Saat melewati jalan Prof. Ir. Yohanes, Sagan, saya ngusulin buat nyoba Hungry Bear. Tempatnya memang berkonsep cafe sih tapi saya pikir setidaknya bakal ada makanan berat semisal nasi goreng. Setelah masuk, duduk dan lihat daftar menunya ternyata nggak ada nasi goreng hahaha… Nggak ada kata “nasi” dalam daftar menu Hungry Bear. Meski begitu ada cukup banyak menu yang bisa dipilh seperti pancake, snack platter, pie apel, mie rebus/goreng, waffle, ice cream, pisang gapit, roti bakar dan lain-lain.

Saya lalu memesan Bearyppuccino dan Choco waffle sementara My Bro memilih Chocobear dan mie goreng yang (terpaksa) berubah menjadi mie rebus gara-gara saya khilaf, malah nulis “stew noodle” di kertas pesanan padahal yang dipesan fried noodle hehehehe.. *My bad*.

.:. Bearyppuccino ini minuman kopi disajikan dalam gelas biasa sederhana, manisnya nggak berlebihan dan saya suka. Kalau Chocobear adalah minuman coklat *standar bangetย deskripsi saya yaak?! ๐Ÿ˜€ *

.:. Stew noodle Hungry Bear adalah mie rebus yang disajikan dalam semacam pot. Ada telur, sayur, tomat dan sosis sebagai pelengkapnya.

.:. Choco Waffle : waffle dengan topping es krim coklat, oreo dan serpihan coklat. Rasanya enak banget, porsinya pas, nggak bikin enek.

Hungry Bear ini memang nggak begitu luas tapi nyaman. Tempatnya bernuansa woody minimalis. Beberapa boneka dan hiasan serbaย  beruang membuat Hungry Bear semakin Beary. Ada fasilitas Wi-fi juga. Overall tempatnya asik buat ngobrol, ngerjain tugas, inetan atau santai sambil ngemil. ๐Ÿ™‚

Widuri, indah bagai lukisan…oh sayang…

13082013.

Sehari sebelum kembali (lagi) ke Jogja, saya pergi main ke pantai Widuri. Pantai ini adalah objek wisata andalan kampung halaman saya, Pemalang, Jawa Tengah. Semenjak tinggal di Jogja dan merasakan jauh dari pantai, pergi ke Widuri menjadi agenda saya setiap kali pulang. Mumpung cukup dekat dari rumah.

Sebenarnya dulu pantai Widuri terasa biasa saja bagi saya lantaran kurang terawat, kotor dan minim fasilitas. Namun seiring berjalannya waktu Widuri sudah berbeda. Banyak fasilitas baru dibangun, gazebo-gazebo pinggir pantai, dermaga-dermaga tempat memancing, dan sudah banyak juga pedagang aneka makanan di sekitarnya. Nampaknya pemkab Pemalang kini telah berhasil mengelola pantai widuri dengan baik, berhasil mengembangkan potensi Widuri sehingga cocok menyandang sebutan objek wisata unggulan, bukan sekedar tempat piknik yang hanya ramai setahun sekali saja.

Pantai yang terkenal dengan nama Cilincing atau Tlincing ini dulunya hanya ramai saat lebaran. Pada hari raya tersebut, seperti sudah menjadi tradisi, masyarakat Pemalang mengunjungi Cilincing beramai-ramai untuk rekreasi bersama sanak saudara. Tapi kini Widuri juga tetap ramai di hari biasa.

Dan di tahun 2009, objek wisata ini mulai memiliki kebanggaannya. Sebuah komplek wahana permainan air yang disebut Widuri Water Park(WWP) yang semakin menarik pengunjung.

Selain itu juga terdapat sirkuit balap di sebelah timur WWP yang biasa dipakai untuk event balap regional. Kalau sedang nggak ada acara balap, sirkuit ini berubah menjadi tempat pacaran muda-mudi menghabiskan waktu bersama. ๐Ÿ˜€

Sore itu bersama Maria, saya hanya mengunjungi bagian pantai di sebelah barat objek wisatanya. Di bagian ini pinggiran pantainya sudah dibeton agar air laut nggak meluap ke jalan. Dan sepertinya air laut sedang pasang jadi kami nggak bisa jalan-jalan di pasirnya. Kami cuma duduk-duduk di semacam dermaga kecil sambil menikmati pemandangan sampai matahari terbenam.

Widuri

Btw, itu judulnya saya ambil dari lirik lagu “Widuri” punya Bob Tutupoly :p

Satu-Agustusan

010813 : @The Twizel. Thank God, saya bisa makan sesuatu yang baru (dan enak) di 1Agustus tahun ini. Thanks juga buat Cici yang sudah nemenin dan ngasih saya Birthday cake. ๐Ÿ˜€

040813 : @Pizza Giovanni bareng My Bro n Sists . Akhirnya kami bisa ngumpul lagi. Belakangan kami jarang ketemu dan main bareng karena kesibukan masing-masing mereka. Kalau mau main bareng atau ketemu berlama-lama harus cari hari yang mereka sama-sama libur, seperti hari ini. Tapi untunglah mereka masih berdomisili di Jogja dan sekitarnya, masih dekat. : )

150813 : @Kawaii Sushi Suki. Ini seperti nostalgia tahun kemarin saat saya, Ana Maria dan Sha makan bertiga. Bedanya kali ini personilnya adalah saya, Ana Maria dan Cimut, sementara Sha sudah meninggalkan Jogja untuk mengejar cita-citanya.

Hari ini tadi kami masak suki sambil ngobrol ringan(?), sedikit ngobrol soal masa depan, soal anak(?), soal cinta masa lalu(?) dan lainnya.ย Semoga kami masih berkesempatan jalan bareng lagi di lain waktu ^^.

Food actually tastes better when you are eating it with people you like

Kimbab yang Aneh

Lebaran hari kedua.

Iseng-iseng tadi saya bikin camilan bareng adek saya Maria. Niatnya mau bareng si bungsu juga tapi pas mau bikin, dia masih tidur siang.

Sebenernya salah satu rencana saya saat pulang ke rumah memang mau nyoba bikin camilan. Dan yang kebayang adalah bikin nasi gulung nori. Kenapa? karena praktis. Tinggal menata bahan-bahan yang tersedia saja, nggak pakai bikin bumbu segala ๐Ÿ˜€ Dan inilah bahan-bahan yang kami pakai untuk membuat nasi gulung nori (Di sini saya sebut Kimbab, Kimbab yang aneh)

1. Nori (rumput laut) lembaran. *bawa dari Jogja karena di kampung halaman saya pasti susah nyarinya*

2. Nasi putih hangat.

3. Daging sapi.

4. Telur dadar.

5. Sosis goreng.

6. Sawi putih (mentah). Sebenernya saya kurang suka sawi putih apalagi mentah karena baunya mengingatkan pada hamster-hamster piaraan saya -yang telah lama tiada. Tapi berhubung nggak ada stok sayuran lain ya sudah, sawi pun tak apa. ๐Ÿ˜€

7. Nanas.

Cara bikinnya mudah sekali, tinggal taruh nasi di atas lembaran nori kemudian susun semua isiannya di atas nasi. Idealnya harus ditutup sama nasi lagi. Tapi kami sepakat nggak melakukannya karena niat kami bikin camilan yang nggak โ€˜beratโ€™. Setelah semua isiannya sudah ditata di atas nasi, norinya digulung. Kalau yang perhatian dengan estetika, biasanya akan menggunakan makiso/sushi mat buat menggulungnya supaya hasil gulungannya rapi. Kalau kami? cukup dengan menggunakan alas plastik dan dua tangan saja. Gulungan ini kemudian dipotong-potong. Nah pas motong ini saya bingung karena pisau susah sekali nembus norinya. Mungkin kurang tajam pisaunya atau sayanya yang nggak becus?

Di saat itu adek saya seperti mendapat efek bohlam menyala, dia langsung meraih gunting dan menggunting-gunting gulungan kimbab bikinannya. Sudah pasti bentuknya jauh dari kesan cantik, tapi ujung-ujungnya saya ikutan juga memotong dengan gunting. Lha gimana lagi? terbukti it works. Setelahnya hanya perlu merapikan hasil potongan itu agar bentuknya tetap membulat.

Setelah terpotong, barulah kelihatan agak aneh si kimbab ini. Ternyata niat kami yang nggak pengen camilan ini ‘berat’ -nggak menambahkan nasi lagi- berefek pada bentuknya. Isiannya jadi nggak berada di tengah-tengah. Udah gitu nasinya kurang rapat, mungkin gara-gara tadi pas nggulung nggak terlalu kuat. But this is it! “Kimbab(wanna be)” by The Sisters ๐Ÿ˜€

Oh oh, garnish-nya dong! crazy monkey 140Awalnya cuma pakai sawi, terus karena terlihat sepi saya tambah potongan nanas. Melihat ada sosis yang belum terpakai, saya pun akhirnya memotong dan menjadikannya garnish. Terus biar cerah saya kasih potongan cabai merah dan Voila! begini jadinya:

Kimbab buatan kami

Kimbab yang bukan buatan kami (sumber: topchefkorea.com)

Kimbab yang bukan buatan kami (sumber: topchefkorea.com)

Well, katanya jangan liat sesuatu dari penampilan kan ya?kalau ini yang penting rasa. Kimbab ini enak kok, kaya rasa. Ada perpaduan rasa nasi, nori, daging, sosis, telur, sawi dan nanas. *yaiyalah* ๐Ÿ˜€

Btw, barusan saya googling. Ternyata ada tips agar mudah mengiris gulungan kimbab yaitu dengan membasahi pisau dengan air hangat atau memanaskannya terlebih dahulu sesaat sebelum dipakai untuk memotong. *noted*