Gastronomi

[KulinerJogja] Madam Tan Wok Bar

Kemarin pas tanggal merah tahun baru hijriyah, saya ada mini-reuni sama beberapa teman sewaktu kerja part-time di perpustakaan. Saya sebut mini-reuni karena kami hanya berempat saja. Sebenernya sih ini cuma reuni dengan Mba Ling yang baru-baru ini mutasi ke Jogja. Kalau tiga lainnya—saya, Nunagallo dan Mba Marragret, biasanya juga masih sering ketemuan lantaran sama-sama masih berdomisili di kota gudeg ini.

Dan kami, kalau ketemuan paling ya hanya untuk sekedar ngobrol dan makan bareng. Pertemuan kali ini juga begitu. Hanya saja kali ini kami memutuskan untuk bertemu di Jogja Expo Center(JEC) untuk lihat-lihat pameran dulu. Kebetulan waktu itu di JEC lagi ada pameran komputer, gadget, fashion dan lifesyle bertajuk Great Fest. Kurang puas juga rasanya kalau acaranya cuma ketemu->makan bareng->pulang.

Selain itu, kami ngumpul di JEC karena belum punya tempat tujuan untuk makan bareng. Menjelang petang, setelah pegal keliling pameran barulah kami bahas deh itu persoalan MDM(MakanDiMana)Urusan memutuskan MDM ini nggak pernah mudah, apalagi kalau lagi pada nggak punya referensi tempat makan. Hari itu akhirnya diputuskan buat makan di Madam Tan meskipun sedikit berdebat dengan Mba Marragret yang menginginkan tempat lain hahaha..*next time yaa Mba*

Madam Tan, lengkapnya Madam Tan Wok Bar termasuk belum lama memeriahkan dunia perkulineran Jogja #halah! Tempat ini baru dibuka akhir september lalu. Baliho promonya memang sempat saya lihat di jalanan, tapi kurang attractive bagi saya lantaran entah kenapa saya nangkepnya itu resto masakan ala Malaysia. Padahal kalau diperhatikan lagi nggak ada unsur apapun yang eksplisit mengatakan itu resto masakan Malaysia.

* * *

Sewaktu sampai di TKP, di jalan C Simanjuntak no. 78A Yogyakarta, suasana rumah makan yang bercat dominan putih dan woody itu lumayan ramai. Namun kami masih berusaha cari tempat yang oke dan sempat coba lihat ke lantai atasnya dulu..eh ternyata tempatnya cenderung gelap, ada sih spot yang oke di balkon tapi cuma ada 2 kursi, lebih cocok buat dinner date gitu. Akhirnya kami turun lagi dan beruntung pas itu ada meja di pojok–yang terlihat nyaman– baru ditinggalkan pengunjung. Jadilah kami berempat menempatinya meski harus menunggu meja diberesi dan dibersihkan. Tapi beneran, spotnya asik dan dibanding lantai atas, menurut saya suasana lantai bawah lebih hangat, apalagi kalau dapat spot di depan open kitchennya tuh..mungkin bakal lebih terasa hangat.. :p

Madam Tan lantai 1

Madam Tan lantai 1

Okay, setelah duduk dan melihat daftar menunya, ternyata Madam Tan ini menyajikan menu yang bervariasi *dan terbukti bukan resto masakan Malay*. Sebagian besar merupakan menu oriental yang dimasak dengan Wok(wajan besi). Sebagian lain adalah masakan western, melayu dan nusantara. Komplit.

Kalau bingung mau pilih makanan apa, ada icon jempol di buku menu yang membantu menunjukkan menu yang direkomendasikan atau tanyakan saja sama pelayan. Kalau tips pilih menu dari saya sih simpel saja, buka halaman pertama buku menu dan lihat menu-menu di bagian kiri atas. Biasanya itu menu andalan tempat tsb. *biasanya lho yaa* 😀

Oke deh, ini beberapa menu yang kami pesan di Madam Tan:

Sunny Sky

Sunny Sky pilihan Mba Ling, kurang tahu ini mix dari apaan dan apaan, yang keliatan jelas cuma ada buah ceri yang bikin minuman ini keliatan seksi kayak semacam cocktail 😀

Reguler Ice Tea Madam Tan

Reguler Ice Tea Madam Tan

Es Langkawi Madam Tan

Es Langkawi Madam Tan

Es Langkawi, katanya diambil dari nama daerah di Indonesia yaitu Langkawi. Saya sendiri nggak tahu Langkawi-nya Indonesia. Setahu saya Langkawi ada di Malaysia *Malaysia meneh*. Isinya bubur sumsum putih, santan, gula aren, kolangkaling, kelapa muda, cincau, nangka dan ketan. Woaah, saya agak-agak laper mata pas pesan ini, Es langkawi terlalu ‘berat’ buat teman makan nasgor hahaha..

Hot Strawberry Tea

Hot Strawberry Tea pesanan Mba Marragreth ini saya pikir teh hangat berisi potongan buah strawberry. Ternyata bukan, pas di antar ke meja kami Hot Strawberry Tea bentuknya air putih hangat sama 1 tea bag plus pemanisnya. Jadilah Mba Marragreth nyeduh sendiri teh merk Dilmah itu. Teh asal Srilanka dengan warna yang cenderung gold. Kabarnya teh ini berkualitas premium dan beraroma kuat *abis cari tahu soal Dilmah 🙂 *

Bihun Tom Yam Madam Tan

Bihun Tom Yam Madam Tan

Pesanan Nunagallo, menurutnya kuantitas bihunnya minus tapi kuahnya lezat dan nggak terlalu asam.

Nasi Goreng Ala Madam

Nasi Goreng Ala Madam Tan

Nasi Goreng Ala Madam dg Topping Seafood

Nasi Goreng Ala Madam Tan dg Topping Seafood

Selain Nunagallo, kami semua pilih nasi goreng ala Madam Tan. Nasi goreng telur berwarna kemerahan yang katanya dari buah bit yang dibilang kaya antioksidan. Rasanya enaak, campuran nanas dan kismisnya memberi tambahan rasa segar. Hanya saja terlalu oily. Mudah-mudahan yang dipakai minyak zaitun atau apa gitu yaa hehe kan jargonnya “Healthy food, good food, good mood” 🙂 Oh ya, di sini menu yang dimasak dengan wok semisal nasi goreng, bakmi, kwetiaw dan ifumie bisa diberi topping sesuai pilihan. Saya sendiri mencoba topping seafood.

And the last, soal harga. Harga menu di Madam Tan cukup sebanding sama rasanya, menu wok-nya mulai 20ribuan.  Kalaupun merasa harganya agak “lumayan”, saya rasa bisa dibikin impas dengan tempat yang cozy, nyaman dan pelayanan yang ramah.

Iklan

[KulinerJogja] Hungry Bear

31082013.

Di malam penghujung bulan delapan, saya pergi bareng My Bro dengan rencana mau nyari suatu barang buat temen. Udah ke sini dan ke sana sampai kelaperan tapi nggak juga menemukan barang yang kami cari. Alhasil kami beralih nyari makanan dulu. Itu juga nggak langsung nemu karena bingung mau makan apa dan di mana. Yang jelas kami sepakat mau makan berat (baca; nasi).

Saat melewati jalan Prof. Ir. Yohanes, Sagan, saya ngusulin buat nyoba Hungry Bear. Tempatnya memang berkonsep cafe sih tapi saya pikir setidaknya bakal ada makanan berat semisal nasi goreng. Setelah masuk, duduk dan lihat daftar menunya ternyata nggak ada nasi goreng hahaha… Nggak ada kata “nasi” dalam daftar menu Hungry Bear. Meski begitu ada cukup banyak menu yang bisa dipilh seperti pancake, snack platter, pie apel, mie rebus/goreng, waffle, ice cream, pisang gapit, roti bakar dan lain-lain.

Saya lalu memesan Bearyppuccino dan Choco waffle sementara My Bro memilih Chocobear dan mie goreng yang (terpaksa) berubah menjadi mie rebus gara-gara saya khilaf, malah nulis “stew noodle” di kertas pesanan padahal yang dipesan fried noodle hehehehe.. *My bad*.

.:. Bearyppuccino ini minuman kopi disajikan dalam gelas biasa sederhana, manisnya nggak berlebihan dan saya suka. Kalau Chocobear adalah minuman coklat *standar banget deskripsi saya yaak?! 😀 *

.:. Stew noodle Hungry Bear adalah mie rebus yang disajikan dalam semacam pot. Ada telur, sayur, tomat dan sosis sebagai pelengkapnya.

.:. Choco Waffle : waffle dengan topping es krim coklat, oreo dan serpihan coklat. Rasanya enak banget, porsinya pas, nggak bikin enek.

Hungry Bear ini memang nggak begitu luas tapi nyaman. Tempatnya bernuansa woody minimalis. Beberapa boneka dan hiasan serba  beruang membuat Hungry Bear semakin Beary. Ada fasilitas Wi-fi juga. Overall tempatnya asik buat ngobrol, ngerjain tugas, inetan atau santai sambil ngemil. 🙂

[KulinerJogja] MichiGo

Yeaaay! Ada Korean resto baru di Jogjaa..Baru mulai buka 13 Juli kemarin. Namanya MichiGo.  Kabar akan hadirnya MichiGo sebenernya sudah saya dengar sejak beberapa bulan sebelumnya karena kebetulan saya baca pengumuman staff hiring mereka. Sejak itulah saya excited buat nyoba makan di MichiGo lantaran saya memang tertarik dengan makanan ala Korea *sebenernya semua makanan sih* Efek Running Man  yang saya tonton juga nih, sering mengumbar makanan-makanan Korea yang bikin mupeng. Saya sampai iseng-iseng ikut kuis di radio yang berhadiah voucher makan di Michigo..tapi belum beruntung kekekek.. ..

Beruntungnya, saya tetep jadi ke MichiGo karena Ana Maria dan Cici juga berminat nyoba.  Alhasil masih dalam masa soft opening, tiga hari setelah MichiGo mulai buka,  kami bertiga langsung cuss ke TKP di jalan Colombo no 7 Yogyakarta (sebelah timur Wisma MM UGM).

Kalau dari namanya, MichiGo berarti going crazy atau being awesome. Konon nama adalah harapan, mungkin harapannya setelah makan di Michigo jadi going crazy saking enaknya kali ya? *padahal aslinya nggak ngerti maksudnya apaan 😀 😀 *

Dalam masa puasa ini MichiGo buka pukul 3 sore – 11 malam. Hari itu kami datang ke “The Real Awesome Korean Fastfood Restaurant” tersebut petang hari sekitar jam 6. Berbeda dengan Korean resto lain yang sudah ada di Jogja, MichiGo mengusung konsep fastfood restaurant. Customer yang datang, memilih menu dulu di counter, bayar, baru menikmati pesanannya. Nah yang bikin MichiGo terkesan Awesome adalah adanya sistem digital ordering. Daftar menunya ada di tablet. Jadi kalau mau pesan, customer tinggal colek-colek layar, klik order, klik payment dan bill akan langsung tercetak di mesin print di samping masing-masing tablet.

pad buat pilih menu

tablet buat pilih menu

Kemudian setelah membayar pesanan sesuai yang tertera di print out bill, customer akan diberi (lebih tepatnya dipinjami) video pager yang memutar video klip K-Pop. Jadi pas nunggu pesanan bisa sambil nonton klip. Tapi buat saya keberadaan klip di video pager ini nggak terlalu penting sih toh restonya sendiri juga sudah memutar lagu K-Pop dengan volume yang cukup keras. Udah gitu klipnya nggak full, baru setengah jalan udah (otomatis) berganti klip lain. Tapi kalau buat penggila K-Pop yang “tingkat dewa” pasti seneng banget deh kalo ada idolanya nongol di video pager itu.

Sesungguhnya fungsi utama video pager ini  adalah layaknya nomor antrian digital. Kalau menu pesanan kita sudah jadi, kita akan diberitahu lewat pesan ke video pager ini yang isinya “Your order is ready please pick up at the counter“. MichiGo memang menerapkan sistem self-service. Pelayan nggak mengantar menu pesanan ke meja kita tapi kita yang mengambil pesanan ke counter. Bahkan kalau kita bersedia membereskan meja setelah kita rampung makan, bakal ada semacam reward buat kita yang bisa ditukar dengan menu di Michigo setelah mencapai angka tertentu. Tapi waktu itu sih kami nggak pake beresin mejanya, m.a.l.a.s 😀

Video Pager Michigo

Video Pager MichiGo

Oke beralih ke menu. Menu MichiGo digolongkan jadi 5 yaitu Hot items, Specials, Dosirak, Dessert dan Drinks. Mungkin memang kalah jumlah variasi dengan Mushiro atau Dae Jang Geum. Namun ada beberapa menu ala Korea seperti Pat Bing Soo yang hanya ada di Michigo *CMIIW*.

Menu kategori Hot items adalah berbagai menu ayam, variasi ada pada saus dan jenis bagian ayamnya(drumstick atau wings). Ada juga Dolsot Bibimbab, nasi campur yang disajikan pakai dolsot(mangkuk terbuat dari batu) yang panas. Pada saat cerita soal Musiro saya pernah menuliskan kalau Bibimbab biasanya disajikan dengan telur mentah. Nah kalau penyajian Bibimbab ini  pakai dolsot panas maka telur akan menjadi lebih matang saat semua isi nasi campurnya diaduk.

Di kategori Specials ada Naeng Myun alias Mie Dingin Korea, Toppokki dan Pajeon. Naeng Myun alias Mie Dingin memang disajikan dengan kuah dingin(ada juga yang ditambahi es batu). Di negeri asalnya dimakan kalo musim panas. Waktu liat gambar menunya saya pengin pesan ini karena tertarik dengaaaan potongan dagingnya yang terlihat disajikan terpisah 😀

Bibim Naeng Myeon (foto  punya michigo)

Bibim Naeng Myeon (foto punya michigo)

Pas tanya ke waitress ternyata dagingnya nggak disajikan terpisah(nggak kaya digambar) tapi sudah langsung dicampur dalam wadahnya. Entah kenapa hal ini langsung mengurangi minat saya pesan Naeng Myun wkwkwk…

Di kategori Dosirak ada berbagai menu bento, kalau Dessertnya ada Pat bing soo dengan 4 varian rasa toping ice cream, sedangkan di kategori Drinks hanya ada jus dalam botol, air mineral dan teh kotak.

Pesanan kami bertiga saat itu adalah Fishcake Toppokki, Dak Pajeon, dan 3 Pat Bing Soo.

Toppokki di Michigo ada 2 varian yaitu Gopchang Topoki (toppokki dengan potongan daging sapi) dan Fishcake Toppokki. Kami pesan yang Fishcake Toppokki. Menurut saya rasa fishcakenya malah lebih maknyus dibanding toppokkinya dan rasa maknyus itu nggak lepas dari peran sausnya yang memang enaak, pedas manis (dominan manis). *apaan ya nama ini saus? gojuchang?*

Fishcake Toppokki 30k

Fishcake Toppokki 30k

Kalau menu Pajeon ada 3 jenis, nampak seperti martabak telur. Ini pesanan Ana Maria, dia memilih Dak pajeon yaitu telur dengan isian daging ayam, mozarella dan daun bawang.

Dak Pajeon 30k

Dak Pajeon 30k

Terakhir adalah Pat bing soo. Es serut plus potongan buah jeruk, kiwi, leci, kacang merah dengan topping ice ceram dan taburan almond.

Masing-masing kami pesan Nokcha Pat bing soo, Strawberry Pat bing soo, dan Neopolitan Pat bing soo(lolos dari sesi pemotretan).

Strawberry Pat Bing Soo 26k

Strawberry Pat Bing Soo 26k

Nokcha Pat Bing soo 26k

Nokcha Pat Bing soo 26k

Nockcha alias Green teanya kurang terasa, terlebih pas sudah nyampur dengan es serutnya jadi cenderung hambar. Tapi kombinasi isian buahnya bikin Pat Bing Soo ini segeer!

Satu yang agak nggak klik buat saya adalah penyajiannya yang memakai cup kertas(?). Padahal kalo di menu terlihat disajikan pake gelas, cantik dan foodgenic gitu deh. Mungkin karena ini fastfood jadi fokus pada kepraktisannya tapi nggak nyaman banget rasanya pas makan esnya bochor bochor di meja 🙂

Pat Bing Soo di Daftar Menu

Pat Bing Soo di Daftar Menu

Oya temen saya Inyul nitip buat take away Dosirak yang Nomina HanaGo. Sampai kost yang pertama dia cicip adalah nasinya karena kalau nasi Korea atau Jepang gitu beda kan yaak?! dan katanya nasinya okee! Selain nasi ada kimchi, salad, tuigim sama ayam.

Nomina HanaGo Dosirak 30k

Range harga makanan Michigo mulai 30-50k sedangkan minumannya mulai 7k. Ada pajak 10%. Di sini nggak ada ramyun, dan karena fastfood jadi nggak ada bulgogi atau sebangsanya yang masak pakai kompor di meja.

MichiGo bisa dijadikan referensi tempat makan ala Korea di Jogja, ini adalah perpaduan food, gadget dan ordering sistem yang awesome. Mian, fotonya kabur-kabur *cuma pake HP* dan gomawooo buat Ana Maria dan Cici :*

.:: Anyeooooong! ^^

[KulinerJogja] aSaGaYa

Tanggal satu Juli, artinya hari ini umur saya tepat sekian tahun lebih 11 bulan..Huhuu nggak krasa. Rasanya baru kemaren saya melewati umur saya yang twenty-something itu. Udah ah, saya nggak mau ngomongin umur. Saya mau ngomongin makanan (lagi) aja. Kali ini makanan di Asagaya yang saya coba bareng 2 sohib saya Sha dan Ana Maria di hari dimana saya tepat berumur twenty-something itu.

Asagaya ini adalah salah satu tempat makan Japanese food di Jogja. Lokasinya di jalan Kaliurang km 5 (selatan ring road). Dulu tahu tempat ini gara-gara  dapet brosur soft openingnya pas main ke acara Korean Days di UGM. Tapi pas kami dateng ini mah udah jauuh berbulan-bulan setelah soft openingnya.

Tempatnya nggak begitu luas tapi nuansa jepangnya cukup terasa. Dari luar akan terlihat dinding Asagaya yang dibuat dari susunan bambu dengan beberapa lampion merah bergelantungan. Ruangan di dalemnya cukup nyaman. Beberapa hiasan dinding yang ada cukup menambah atmosfer Jepangnya. Saat kami datang sekitar jam 12 siang ruangannya masih sepi, kami lalu memilih duduk di kursi panjang berbulu *suwer deh ada bulu-bulunya gitu* dengan meja kayu panjang, dekat dengan sushi bar. Iya asiknya di sini ada sushi bar gitu, jadi bisa duduk sambil menghadap koki yang lagi bikin sushi. Tapi kalau dateng rame-rame sih enaknya duduk di kursi yang berhadapanan dong ya?

Di Asagaya menunya sangat beragam. Tentunya ada Sushi, Ramen, Udon dan Bento. Ada juga menu Japan rice seperti Onigiri dan Omurice serta masih banyak menuyang lain.  Saya coba-coba pesen sushi dan dari sekian banyak macemnya (fresh salmon, tuna, tempura, beef, karage) saya pilih Beef Teri Roll. Sementara Sha dan Ana Maria memilih untuk makan ramen.

Beef Teri Roll

Dan Beef Teri roll ini enaaak!! isiannya beef dan sayuran(selada dan timun) disajikan dengan pelengkapnya yaitu wasabi, gari, dan soyu(kecap jepang). Wasabi ini adalah si ijo-ijo pemberi rasa pedas tapi nggak setaraf sambal karena pedas wasabi ada pada aromanya. Wasabi juga berfungsi untuk membunuh bakteri yang ada pada ikan mentah, jadi kalau makan sushi dengan ikan mentah atau sashimi, baiknya memang dicelup ke wasabi yang sudah di campur soyu. Selain wasabi, gari juga merupakan pelengkap yang umum disajikan bareng sushi. Gari ini adalah jahe merah fungsinya buat menetralkan lidah. Kalau kita makan sushi set yang terdiri dari beragam jenis misalnya, kita bisa menetralkan lidah dengan gari sehingga bisa merasakan rasa tiap sushi tanpa kecampur-campur rasa potongan sushi lain yang kita makan sebelumnya. Tapi kalau lidah saya malah nggak cocok dengan wasabi atau gari, rasanya aneh. Jadi Beef Teri Roll ini saya makan dengan soyu saja. Beefnya nggak alot dan yang paling saya suka dari menu ini adalah nasinya yang lengketnya pas *halah!* mungkin emang Japan rice *mungkin*. Harga sushi Asagaya mulai 25k, bisa juga kalau mau dikombinasi, perpotong mulai 5k-10k. Ada juga sushi set (sushi for party) 80k buat 3 orang dan 150k buat 5orang.

Selanjutnya adalah ramen pesanan Sha dan Ana Maria, berhubung saya nggak bisa njelasin gimana rasanya jadi kali ini biar fotonya yang njelasin. Harga ramen Asagaya rata-rata 20k.

Karaimiso Ramen

Chicken Ramen

Buat yang cari japanese food di Jogja yang cukup lengkap, Asagaya boleh jadi salah satu alternatifnya. Btw judul itu bukan maksud saya ngalay dengan tulisan besar kecil, tapi karena emang dibannernya tulisannya begitu hehe..

Oyaa nggak lupa..Thanks buat Sha dan Ana Maria^^

 

.:: Sayonara

 

[KulinerJogja] Musiro

Ini bagi yang pengen nyoba makanan Korea di Jogja. Salah satu opsinya bisa ke warung(?) makan bernama Musiro. Dulu temen saya pernah bilang kalau lokasinya ada di Jalan affandi (Gejayan) tapi saya nggak pernah nemu. Ternyata emang udah pindah tempat, masih di Jalan Affandi juga sih tapi sekarang masuk gang Alamanda : Kalau lewat jalan Affandi dari arah utara, Gang alamanda ada di kanan jalan, sebelum indomaret yang ada di seberang Swiss bakery.

 Saya nggak tahu Musiro sebelum pindah seperti apa tapi sekarang menempati semacam eks-rumah dengan 2 kamar.

Nggak seperti Dae Jang Geum yang dari bangunannya saja sudah terlihat Korean Style, Musiro nampak lebih sederhana. Nuansa Koreanya hanya diciptakan dari banyak foto dan poster artis Korea yang dipajang di tembok, dari lagu-lagu Kpop yang diputar, serta dari salah satu bentuk jendelanya.

Musiro ini menunya Fusion Korean Food. Namanya juga fusion jadi rasanya sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia, seperti taglinenya “Resep Korea, Lidah Indonesia”. Waktu saya ke sana bersama seorang teman (sekitar awal tahun 😀 ) menu yang kami pesan adalah Topokki dan gimbab, tapi selain 2 menu itu masih buanyak lagi macam menu di tempat ini.

.:. Toppokki

Toppokki(Teokbokki/Deokbokki) sering disebut kue beras, street food terkenal dari Korea. Berbentuk lonjong, dipotong2 silinder kecil-kecil dan disajikan dengan saus. Rasanya pedas-manis, ada aroma ikan dari kue berasnya. Di Musiro toppokki reguler dihargai 15ribu, 25ribu untuk toppokki dengan tambahan keju mozarella dan 7ribu untuk yang disajikan seperti sate(memakai tusuk).

Topokki reguler 15k

.:.Gimbab

Gimbab/kimbab merupakan nasi gulung dengan balutan nori berisi isian tertentu, persis Sushi orang Jepang. Di Musiro banyak pilihan Gimbab, tapi kala itu saya memilih isi Tuna. Harga Gimbab rata-rata 22ribu rupiah. Gimbab di Musiro disajikan dengan kimchi dan semacam soup kaldu.

Crispy Gimbab 22k

.:. Myun

Myun merupakan menu serba mie. Salah satunya adalah Ramyun, semacam Ramen kalau di Jepang , kalau di indonesia mungkin Indomie 😀 .Harganya mulai 15ribu rupiah. Budaya orang Korea kalau makan ramyun biasanya langsung dari panci dan tutup pancinya dipakai sebagai alas saat menyumpit ramyun(bisa lihat gambar di bawah ini). Dari buku menu, sepertinya beberapa menu ramyun di Musiro disajikan seperti itu(dengan wadah panci).

Iklan Shin Ramyun (Source : kpopstarz.com)

Betewe saya pernah baca artikel kalau cara orang Korea makan ramyun yang seperti di atas itu mengusik oknum warga Jepang yang juga khas dengan kebiasaan makan ramennya. Menurut orang Jepang, itu bukan good manners dan disgusting, mereka nggak pengen orang-orang makan ramen dengan cara begitu. Masalah beda budaya saja sih kalau menurut saya, makan langsung dari wadahnya bagi orang Indonesia juga saya rasa nggak sopan. Balik ke individunya aja yang musti bisa nyaring budaya luar. *Yaelah! kok berbau PPKn gini jadinya?! *

Shin Ramyun

Mumpung ngomongin ramyun nih,  saya pernah coba masak ramyun sendiri, beli di Indomaret. Ukuran mienya 120gr, hampir 2kali indomie dan di cara pembuatan harus dimasak dengan 550 cc air, banjir banget kan?  Nggak heran kalau ramen Jepang identik dengan mangkuk besar. Dan mungkin orang Korea menyiasatinya dengan makan langsung dari pancinya *sokteu*. Praktis dari pancinya sih memang *Balada anak kost males cuci perabot*

Wokeh, balik lagi ke menu Musiro.

.:. Menu Bab = Nasi, rata-rata disajikan ala bento. Ada juga Bibimbab alias nasi campur, karena memang semua bahannya dicampur jadi satu. Nasi, bayam, wortel, tauge, jamur, timun, daging dikasih saus dan telur terus diorak arik. Telurnya mentah lho jadi mending tanya dulu dan minta diganti telur matang kalau sekiranya nggak doyan mentahnya. Saya sendiri sih belum ada minat nyoba.

Untuk menu minumnya juga cukup beragam. *tapi seberagam apapun biasanya ujung-ujungnya saya pesen yang berbau teh atau kopi 😀 *

Ice Lemon Tea

Sendok & sumpit panjang, Korean Style

Overall harga menu di Musiro memang lebih murah daripada Dae Jang Geum, tapi porsinya juga lebih sedikit. Jadi sama aja sih. Kalau cuma sekadar pengin nyoba masakan ala Korea, Musiro cukup memuaskan, tapi kalau ingin sekalian dapet suasananya mungkin Dae Jang Geum lebih unggul. Mianhae nih dari tadi bandingin sama Dae Jang Geum karena baru itu rumah makan Korean Food yang pernah saya coba. Ada satu lagi yang menyajikan Korean Food di Jogja yaitu Silla, tapi saya belum berkesempatan ke sana (>.<)/

.:: Anyoooong^^

[KulinerJogja] Heritage Cafe

Apakah Anda salah satu pecinta tempe? Atau malah termasuk yang udah bosen gara-gara keseringan makan tempe? Maklum ya, tempe memang makanan yang sangat  sering dijumpai di menu sehari-hari karena mudah didapat, bisa diolah menjadi berbagai macam masakan dan harganya tak mahal. Sepertinya tempe juga jadi bahan favorit para ibu rumah tangga kala memasak karena selain banyak kandungan gizinya, cita rasa fermentasi biji kedelai ini memang enak.

Namun kalau Anda di Jogja, sedang bosan dengan tempe yang hanya digoreng, dibacem atau dioseng, Anda bisa coba menu tempe di Heritage Cafe & Gallery. Tempat ini menjadikan tempe sebagai bahan utama sebagian besar menunya. Tempenya diolah secara istimewa menjadi olahan yang nggak monoton. Asiknya lagi, selain tempat makan, Heritage juga merupakan basecamp Jogja Heritage Society(JHS), lembaga nonprofit yang bergerak dibidang pelestarian pusaka. Di sini bisa sekalian lihat-lihat batik, beli kaos merchandise Heritage, atau baca-baca berbagai buku di rak yang tersedia. Ada jasa ramal tarot juga setiap Senin malam.

Saat itu saya bareng Nunagallo, My Bestfriend *Thank You Sweety :-)*,  sengaja datang ke lokasi Heritage Cafe & Gallery di Jalan Surokasan no 24, Tamansiswa meskipun kami (jelas-jelas) nggak familier sama lokasinya. Sudah bermodal GPS dan google map sih tapi kami tetep aja pakai nyasar lantaran bingung mana timur mana barat hehehehe. Dan seperti kata pepatah “kalau sudah sesat di jalan jangan malu bertanya” maka bertanyalah kami pada Mas2 yang akhirnya malah mengusulkan diri mau nganter karena dia juga mau jalan ke arah yang sama *Well, kayaknya dia desperate karena udah njelasin tapi kami nggak ngerti juga wkwkwk*

Dengan pencerahan dari Mas2 tadi akhirnya sampailah kami di TKP dan langsung pilih tempat duduk. Cafe ini bentuknya rumah dimana teras, ruang tamu dan ruang tengahnya dijadikan spot untuk makan. Waktu kami datang ada available spot dengan 2 kursi di teras tapi kami rasa mejanya terlalu kecil. Oleh waiter kami di kasih alternatif tempat di ruang tengah yang mejanya besar dan kursinya ada delapan. *Udah kaya meja meeting gitu, padahal kami kan cuma datang berdua*. Alhasil kami balik dan milih meja yang di teras.

Waiternya juga rada-rada nggemesin nih, pas ditanya soal menu yang kami nggak ngerti dia jawabnya “wah saya lupa Mba”  * Hadeeh -.-* tapi berhubung ganteng kami orangya santai jadi dimaapkan 😀 . Selanjutnya kami pesen menu yang ngerti2 aja deh.

Ice Chocolate

Ice Chocolate, nunagallo punya.

Ice Coffee Caramel

Coffee caramel pesanan saya, kopi hitam tanpa ampas (sepertinya) dengan gula karamel. Rasanya? Enak kok, cuman rasa ‘asam’ kopinya kerasa banget *Yang biasa minum kopi hitam mungkin tahu rasa asem yang saya maksud*. Kopi begini saya rasa enaknya diminum panas.

Kalau menu makanannya macem-macem dan seperti yang saya utarakan di awal, semua berbahan dasar tempe.

Nugget Tempe Ayam 6k

Rasa tempe di nuggetnya sangat terasa, hampir menutupi rasa ayamnya. Selain ayam ada pilihan nugget tempe jamur dan nugget tempe keju

Tempe Melek 5k

Tempe melek ini seperti tempe tipis goreng tepung biasa, tapi rasanya pedaaas, bikin melek. Enak dan chrispy.

Steak Tempe 11k

Steak dengan bahan baku tempe, disajikan dengan brown sauce dilengkapi kentang goreng dan sayuran.

Tempe Cordon Bleu 12k

Cordon Bleu merupakan menu western biasanya berbahan daging ayam, daging sapi dan keju dilumuri tepung roti terus digoreng. Di Heritage tentu saja disulap jadi Tempe Cordon Bleu. Disajikan chrispy dengan mashed potato dan sayuran. Mashed potatonya yummy! lembut dan nggak hambar, sausnya gurih.

Selain menu tadi, ada juga menu inovatif lainnya seperti  Chrispy sandwich tempe, Spaghetti bola tempe, Sup bakso tempe, Macaroni tempe schotel, dll. Buat pecinta tempe atau buat yang sekadar ingin mencicipi olahan tempe yang berbeda, cafe ini bisa dijadikan alternatif. Dan meski diolah secara istimewa, harganya masih harga sewajarnya tempe kok. 😀 Suasananya juga nyaman, meski bagi saya kurang pencahayaan di teras.

Dan biar nggak senasib sama kami yang nyasar, kalau mau ke sini cari dan susuri jalan Tamansiswa sampai ketemu Lembaga Permasyarakatan(LP) Wirogunan, lalu ke Selatan dikit ada Jalan Surokasan *harus tahu mana selatan mana utara yaa?!*, nah masuk jalan tsb terus cari deh banner Heritage Cafe.

.:: Auf Wiedersehen

[KulinerJogja] Indraloka Cafe (i Cafe)

Soal icip-icip makanan lagi ni .

Kali ini saya nyoba Indraloka Garden Resto & Heritage Homestay alias i Cafe. Lokasinya di jalan Cik Di Tiro no 18 Jogja. Kalau dari utara: dari RS Panti Rapih, ke Selatan dikit, sebelah kiri jalan.

Sebenernya memang ingin ke sini karena dari luar kelihatan homey dan lumayan asri, sangat merepresentasikan kalau ini garden resto dan homestay. Dan akhirnya saya bersama seorang teman datang ke sini tanpa direncanakan lantaran pas pulang dari nonton konser orkestra pengin makan tapi sudah lebih dari jam 10 malem dan bingung cari tempat makan yang masih buka.

Masuklah kami ke i cafe dan menempati meja paling pojok, lalu mulai membaca buku menunya yang tebal dan nampak seperti buku agenda.

i Cafe ini menawarkan menu tradisional dan internasional. Ada macam-macam pilihan salad & sandwich, soup, fried & grilled, nasi goreng, pasta, dan dessert & pancake.  Harga makanannya antara 10rb – 40rb, sedangkan minumannya mulai 10ribu-an. Dan karena niat saya memang untuk makan malam plus saya itu tipe-tipe yang cepat lapar kalau nggak makan nasi akhirnya saya milih menu yang package with rice. Saya pesan nasi chicken barbeque dan Cappucino Frozen sementara teman makan saya pesan Smoke Beef Chesee Sandwich dan Choco Frozen. Plus pesan Javanese tofu juga buat barengan.

Sambil menunggu seperti biasa saya lihat-lihat sekeliling. Suasananya sangat nyaman, banyak tanaman dan ada gemericik air di sekelilingnya. Tapi yang paling menarik bagi saya adalah adanya VW Combi orange di sini. Banyak juga foto-foto event siraman atau pernikahan yang dipajang, nampaknya indraloka bisa dijadikan tempat untuk menyelenggarakan acara-acara seperti siraman, ultah, BBQ party dan semacamnya.

Oke cus ke makanannya aja ya 🙂

Cappucino Frozen 12k

Cappucino frozen ini minuman cappucino yang esnya diblender halus dan padat. Kalau buat saya sih kurang manis.

Smoke Beef Chesee Sandwich 16k

*Duh pisau garpunya agak ngganjel di foto 😦 *

Seperti namanya, sandwich ini adalah roti tawar berisi smoke beef, keju, tomat, mentimun, selada dan mayonnaise. Oya, ada french fries juga.

Nasi Ayam Barbeque 22k

Chicken barbeque dengan komposisi: nasinya banyak lauknya dikit. Rasanya enak, soalnya saya laper. *itu chicken barbeque kelihatan kayak tempe potong dadu nggak sih?*

Javanese Tofu 12k

Tahu ini Chrispy luarnya. Dalemnya ada isian..seperti cincangan..mmm apa ya? saya nggak tahu karena terlalu halus cincangannya. *wkwkwk laper sampe nggak tau apa yang dimakan*.

Demikianlah pengalaman saya dan teman saya di i cafe jogja. Oya, di sini kita juga bisa menikmati fasilitas free wifi, LCD Proyektor dan Wide Screen secara gratis. Ada live music juga katanya, sayang pas saya ke sana lagi nggak ada.

.:: Auf Wiedersehen 🙂