Sewandana Palakrama [Kolaborasi Pemuda Indonesia – Australia]

6 Februari 2013

Hari itu saya punya agenda menonton Sewandana Palakrama, sendratari kolaborasi pertukaran pemuda Indonesia-Australia di Auditorium Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC” Jogja. Namun hujan masih turun sangat deras saat saya bersiap untuk berangkat ke lokasi pertunjukan. Suara petirnya pun bikin tutup kuping. Sempat bimbang mau tetap berangkat nonton atau tidak. Kalau nggak jadi berangkat kok sayang siapa tahu acaranya bagus, sayang sama 2 tiket yang udah di tangan, sayang juga si Brada yang mau nemeni nonton udah jauh-jauh dateng. Di saat sedang bimbang itu mendadak kost saya dan daerah sekitarnya mati listrik. Karenanya saya jadi yakin dan memutuskan untuk tetap berangkat nonton daripada mati gaya tanpa listrik di kost.

Malam itu pergilah kami menembus hujan. Karena bermasalah sewaktu mencari alamat lokasi pertunjukan, saat sampai di TKP kami sudah telat 20 menit dari jam mulai pertunjukan yang tertera di tiket. Untunglah ternyata acara belum mulai, mungkin toleransi karena hujan deras, mungkin juga lantaran ‘budaya’ ngaret ala Indonesia. Entahlah, yang jelas saat itu saya merasa lega karena acara belum mulai. Kami lalu bergegas masuk auditorium bersama seorang panitia yang mengantarkan kami ke kursi yang bisa kami tempati. Sebelumnya saya sempat mengedarkan pandangan ke sekitar dan cukup heran karena orang yang dateng kok dandanannya resmi banget, kebanyakan pakai batik.  Nggak seperti suasana menonton sendratari yang biasanya saya tonton.

Sembari menunggu acara dimulai saya membaca-baca booklet yang dibagikan, dari situlah saya paham kenapa acaranya nampak resmi dan berbeda. Ternyata ini bukan sekadar acara sendratari tapi Farewell Festival Australia-Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP)2012/2013. Ini adalah semacam program pertukaran pemuda antar negara yang dikoordinasi oleh Kementrian pemuda dan olah raga. Jadi malam itu adalah closing program pertukaran pemuda tersebut dan sendratari Sewandana Palakrama ini merupakan salah satu rangkaian acaranya. Di acara malam itu Menpora diundang juga, tapi beliau berhalangan hadir *Uwoo gagal deh saya melihat Bang Andi Malarangeng, Eh! Roy Suryo ya sekarang?*. Melihat rundown acara malam itu saya cukup senang karena acaranya nggak cuma sendratari jadi nggak sia-sia deh udah menembus hujan pas berangkat hehehe..

Sekitar jam 20.00 WIB setelah dibuka oleh MC dan sedikit sambutan oleh Direktur MMTC, sendratari pun dimulai. Munculah bule-bule Australia dengan kostum Jawa dan beradegan sesuai perannya masing-masing.

Sewandana Palakrama ini mengangkat cerita tentang asal muasal kesenian jathilan, incling (kesenian khas Kulon Progo) dan reog yang disajikan dalam 6 babak. Bersumber dari cerita panji di zaman Kerajaan Kediri kisah ini menceritakan Prabu Klana Sewanda dengan serombongan pasukan berkudanya yang berniat memperistri Dewi Sanggalangit, Putri raja Kediri.

Babak pertama menggambarkan Dewi Sanggalangit yang bertapa meminta petunjuk syarat apa saja yang harus dipenuhi orang yang berniat mempersuntingnya. Akhirnya Sang Dewi mensyaratkan untuk dibawakan 144 kuda kembar, binatang berkepala dua dan iring-iringan musik yang mengagumkan.


Kemudian babak dua (Alas Purwa-Singabarong) menceritakan Prabu Singabarong dan pasukannya yang akan menuju kerajaan Kediri untuk mempersunting Sanggalangit.

Di babak tiga (Rampak Jathilan dan Prajurit) digambarkan bahwa  Prabu Kelana Sewandana bersama prajurit Pedang dan Gada serta Pasukan Kuda (Jathilan) juga akan melakukan perjalan ke Kediri dengan maksud yang sama, mempersunting Sang Dewi.

Babak empat mempertontonkan adegan Prabu Kelana yang dihadang Singabarong. Perang tak terelakan dan berakhir dengan kemenangan Prabu Kelana. Singabarong yang berwujud macan, memelihara seekor merak untuk mengambil kutu di kepalanya. Prabu Kelana lalu mempersatukan kedua wujud tersebut menjadi binatang berkepala dua(yang saat ini kita kenal sebagai Reog) untuk memenuhi syarat dari Dewi Sanggalangit.

Babak lima (Budhalan) menceritakan perjalanan rombongan Prabu Kelana menuju istana Kediri. Babak akhir (Palakrama), menceritakan pernikahan antara Sanggalangit dengan Prabu Kelana.

Sewandana Palakrama selesai dalam waktu 35menit. Sungguh menarik melihat bule-bule memainkan peran sebagai putri raja, ksatria dan prajurit Jawa. Dari segi postur tubuh, mereka sangat cocok untuk peran itu. Namun memang nggak terasa semacam “penjiwaan” karakternya. Adegannya pun serius semua tapi adegan “pernikahan” di babak terakhir cukup berkesan karena pasukan putri Sanggalangit muncul dari pintu masuk, berjalan di melewati tengah penonton menuju panggung. Persis iringan mempelai putri yang hendak menuju pelaminan.

Iringan musik dari gamelannya juga minimalis, tapi saya sangat mengapresiasinya karena setidaknya iringannya gamelan itu “live”. Dan meski nggak ada selipan humor di adegan-adegannya, ada kelucuan di akhir sendratari yaitu saat masing-masing tokoh mengenalkan diri sambil bergaya semaunya.

Selepas sendratari itu, acara dilanjut dengan sambutan Ketua Balai Pemuda & Olah raga DIY dan Wakil Menpora *nggak tau siapa*. Lalu dilanjutkan penampilan dari para pemuda Australia yang menyuguhkan medley gerak dan tari, katanya sih yang biasa dilakukan oleh suku Aborigin. Memang terlihat sih adegan ala-ala sukunya tapi sayang tidak didukung kostum ala Aborigin juga. Mereka cuma mengenakan celana gelap dan kaos putih. Lalu giliran para pemuda Indonesia menyusul, menyajikan medley lagu-lagu daerah dengan kostum daerah juga.

Acara lalu dilanjut dengan presentasi mengenai program pertukaran pemuda antarnegara. Dari situ saya tahu bahwa selain dengan Australia, ada juga pertukaran pemuda dengan Jepang, Kanada, Korea dan negara-negara Asean. Waktunya juga beda-beda. Untuk program AIYEP ini diikuti 36 peserta, 2 bulan di Indonesia dan 2 bulan di Mellbourne Australia. Mereka melakukan School visit, magang kerja dan menetap di Orang Tua Angkat. Sewaktu di Jogja, mereka tinggal di daerah Hargowilis, Kulon Progo, Home Stay di rumah warga sekitar. Hmm seru yaa! * suka mupeng saya sama yang beginian*.

Setelah pemaparan info-info tadi acara masih berlanjut dengan penampilan kolaborasi pemuda kedua negara. Mereka menampilkan  tarian dengan lagu Waltzing Matilda dari Aussie dan tarian Saman serta Rapa’l Geleng dari Indonesia. Sungguh mengejutkan para bule ini bisa lumayan lancar menari saman dengan tempo yang semakin cepat.  Dan penampilan ini sangaaat menghibur karena lucu sekali saat ada satu dua penari yang gerakannya melenceng dan membuat tarian itu “bubar” dan ini menjadikan penonton justru malah menanti-nanti momen salah gerak itu. Ada juga bule yang terus menerus membetulkan selempang Acehnya dan gara-gara itu gerakannya jadi tidak sinkron dengan yang lain. Menurut saya penampilan ini malah lebih menarik dari sendratari tadi.

Acara ini ditutup dengan pemutaran video kegiatan selama para peserta pertukaran pelajar tsb menjalankan program-programnya. Sejenenak acara ini menjadi momen mengharukan bagi para peserta. Saya pun pasti menjadi sentimentil kalau ada pada saat-saat itu. Saat mengakhiri kebersamaan yang terjadi sekali seumur hidup.

Sungguh beruntung mereka yang bisa mengikuti program pertukaran pemuda semacam ini. Salut!

.:: Auf Wiedersehen

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s