Resto Jepang Jogja

Sugoi Tei

Di malam Minggu pertama bulan Oktober saya hang out bersama 3 orang teman kost saya yaitu Inyul, Oyen dan Five(nama sebenarnya). Seperti yang sudah direncanakan dan diperbincangan sebelumnya melalui twitter, kami pergi ke event Ladies Day. Ini merupakan event sejenis garage sale, tapi barang2 yang dijual tidak semuanya second, ada juga yang new. Malam itu Ladies Day diselenggarakan di 3 tempat yaitu di Benteng Vredeburg, mantan Teras Javana Kota Baru dan River View di Babarsari. Ketiga tempat itu kami datangi urut seperti yang saya tuliskan. Yah berhubung saya wanita normal, jelas saya tertarik dengan barang-barang yang didisplay di tempat-tempat  itu dan salah satu yang menarik perhatian saya adalah dress hitam yang dijual di Vredeburg, harganya cuma 100ribu. Harga yang murah untuk dress, terlebih sulit bagi saya menemukan dress yang cocok dengan selera(baca; badan) saya dan lagi sebenarnya saya memang sedang butuh dress karena saya sering bingung mau pakai baju apa kalau saya harus datang di acara yang cukup formal. Namun daya tarik dress hitam tersebut ternyata tidak cukup kuat untuk membuat saya mengeluarkan 100ribu dari dompet. Kesadaran saya jauh lebih kuat, mengingatkan saya bahwa masih banyak prioritas lain yang menanti alokasi dana. Jadi begitulah, ingatan itu sangat kuat sampai membuat saya sama sekali tidak melirik semua yang dijual di 3 tempat itu. Ya baiklah saya ralat, saya memang melirik, pegang-pegang dan meraba-raba tapi pada akhirnya saya tidak mencoba dan membeli dress, cardi, tas, sepatu, dll. itu.
Cuma si Oyen yang berpartisipasi dalam event itu. Dia membeli jaket bergambar tengkorak di lokasi ke-tiga. Di lokasi itu juga sebenarnya kami berencana dinner karena River View memang sebuah cafe. Tapi berhubung saat itu tempatnya ramai, kami mengurungkan niat makan di situ. Kemudian kami memutuskan untuk makan di resto Jepang Sugoi Tei di daerah Nologaten.

Ini kali pertama bagi kami berempat karena kami memang hanya mencoba-coba. Sesampainya di TKP ternyata tempatnya ramai, ramai oleh para pelayan yang duduk mengobrol di kursi depan yang langsung bubar jalan saat melihat kami berempat datang. Keramaian (yang bukan karena pengunjung) itu membuat saya agak terkejut. Saat kami datang, tidak ada pengunjung lain padahal baru sekitar jam 9 malam (atau malah wajar karena sudah jam 9 ya? ). Singkat cerita kami masuk ke TKP dan sedikit melakukan debat kecil soal spot yang pewe di tempat itu(tentu saja saya tidak terlalu berpartisipasi dalam debat tersebut). Akhirnya pilihan jatuh pada sebuah ruangan dengan hiasan lukisan geisha di dalamnya, juga sebuah meja dikelilingi 3 sofa merah empuk, eh itu sofa bukan ya? pokoknya tempat duduk panjang empuk tapi ga ada sandarannya. Selain ruangan yang kami tempati, Di Sugoi Tei ada juga spot lesehan, dan ada tempat duduk dengan suasana terbuka di bagian depan resto.
Sesaat setelah kami duduk, waitress pun datang membawakan 4 buku menu lalu meninggalkannya. Pelayanan awal yang saya suka. Saya lebih senang yang semacam ini daripada waitress yang setelah menyerahkan buku menunya kemudian berdiri di samping meja pelanggan sambil menunggu pelanggan menentukan menunya.  Dalam anggapan saya, kalau buku menunya ditinggal kan pelanggan jadi lebih leluasa memilih menunya dan bisa berdiskusi sebentar dengan teman makannya tanpa harus terburu-buru memilih menu. Namun kemudian saya mendapat alasan logis lain mengapa buku menu tsb. ditinggalkan yaitu karena menunya beraneka ragam, sangat banyak. Pasti si waitress cepat lambat akan kena varises kalau dia harus menunggui pelanggan menentukan pesanannya terlebih pelanggan pertama-kali-datang seperti kami ini yang kebingungan memilih menu.
Sebenarnya menu Sugoi Tei hampir sama seperti resto makanan Jepang lainnya (yang pernah saya coba pastinya). Ada kategori menu sushi, sashimi, ramen, bento, katsu, dan donburi. Di sini saya melihat kategori baru yaitu Gunkan-Makimono, Soup, dan A la Carte. Dari ketiganya itu saya cuma paham yang soup, yaitu adalah hidangan yang ada kuahnya hahaha. Ada juga kategori appetizer dan lunch set(jam 11.00-16.00) dan kategori minuman tentu saja. Yang menurut saya istimewa di Sugoi Tei adalah di setiap kategori menu ada banyak sekali macamnya. Di kategori ramen saja macamnya mencapai 3 halaman buku menu tersebut. Mantap bukan?

Setelah membolak-balik buku menu untuk keseratus kalinya(lebay) akhirnya saya memesan Idako Karage dan karena termasuk appetizer, saya lalu memesan anaknya Goku alias Gohan a.k.a nasi untuk menjadikannya main menu. Si Inyul memilih Yama Ramen level 3. Level ini adalah level untuk kepedasannya(brasa Maicih aja ya ada levelnya), si Five memilih makan Nade Ramen dan si Oyen, sepertinya dia terlalu ngefans sama saya, sampai memutuskan memakan makanan yang sama dengan saya. Untuk minuman, entah karena sudah malas melihat menu atau demi asas pengiritan, mereka bertiga memesan air mineral dingin sedangkan saya memesan yang lebih mahal yaitu taraaaaaa: es teh! (padahal juga cuman lebih mahal 500 perak). Order selesai.

Idako Karage(dalam buku menu)

Menu Ramen

Aneka Sushi Fushion Roll

Aneka Fushion Sushi

Drinks

1 menit kemudian, waitress datang mengantarkan hidangan pertama. Cepet banget kan? yaiyalah karena hidangan pertama ini adalah free dishes berupa kacang. Saya kurang tahu namanya pokoknya warnanya ijo, mirip kacang koro, direbus dan rasanya asin karena ditaburi garam halus di atasnya.

Beberapa menit kemudian pesanan kami pun berdatangan. Yama Ramen duluan lalu Nade Ramen, lalu 3 botol aguaria bersama 3 gelas es batu lalu 2 piring Idako Karage beserta soyu dan mayonaise.
Inyul dan Five mulai memakan ramen mereka masing-masing sementara saya dan Oyen masih menunggu si Gohan yang belum datang. Five bilang rasa ramen miliknya agak hambar dan bukannya minta garam si Five malah menambahkan soyu ke ramennya. Kemudian kami mulai icip-menicip makanan satu sama lain. Saya menyumpit Nade ramen milik Five rasanya sedikit asam mungkin karena efek soyu tadi. Lalu saya menyumpit Yama Ramen milik Inyul. Astaga pedesnya! tapi ini tipe pedes yang saya suka. Mienya saja sudah terasa begitu pedasnya, kuahnya gimana ya? sayang tadi saya ga sempet nyoba.

Yama Ramen IDR 40.000

Pedes secuil mie Yama Ramen yang saya makan tadi membuat saya pengen minum tapi apa daya es teh saya belum datang juga. Sebagai gantinya(?) saya memakan sebiji Idako Karage. Idako Karage simpelnya adalah gurita goreng tepung dan  rasanya sangat enak. Idako ini semakin meyakinkan saya kalau makanan yang enak itu mahal karena seporsi Idako Karage seharga 20ribu hanya mendapat 8 butir, yah mungkin ini disebabkan oleh populasi octopus yang memang langka(emang iya??).

Idako Karage IDR 20.000

Sayang juga nih si Sadako, eh Idako, kalo dimakan tanpa nasi, lalu saya jadi ingat kenapa si Gohan belum datang juga. Apakah dia ketemu Mr Satan lalu bertarung dulu? atau dia harus mengantarkan Goten adiknya ke sekolah dulu? Aih imaginajis. Five menduga jangan-jangan nasi dan es tehnya terlupakan, tapi berhubung dasarnya saya penyabar dan ga seneng komplain, saya mencoba menunggu lebih lama sambil memfoto buku menu dan isinya. Lagian tadi si waitress sudah mengulangi membacakan order kami dengan tepat. Kemudian kami pun mulai membuat skenario sendiri, mungkin nasinya lama dateng karena berasnya musti dimasak dulu, atau dipanen dulu, atau ditanam dulu.  Aishh..Ini pun imaginajis. Si Five yang ramennya hampir habis sementara nasi dan es teh saya belum datang lalu mengambil tindakan. Dia memanggil waitress yang tadi mencatat menu kami lalu menanyakan nasib si Gohan dan es teh saya. Si waitress cukup terkejut atas pertanyaan itu lalu dia meminta maaf. Jelaslah sekarang bahwa Gohan dan es teh benar-benar dilupakan. Untunglah tak lama kemudian es teh dan 2 porsi Gohan pesanan saya dan Oyen datang juga. Saya lalu makan dalam damai, tapi saya tidak menghabisi Gohan soalnya lauknya sudah habis duluan. Selesai makan kami kabur (maunyaa) tapi karena kami wanita baik-baik tentu saja kami membayar semua pesanan kami total senilai 134,5 juta ribu rupiah. Keluar dari pintu Sugoi Tei ternyata ada 2 orang lelaki(maaf saya juga kurang tahu maho atau tidak) yang langsung masuk ke ruangan tempat kami makan tadi, nampaknya sedari tadi menunggu kami selesai makan. Padahal semua spot available di resto itu. Saya jadi merasa bahwa tadi kami menempati spot yang tepat.
Selesai makan kami pulang ke kost kami masing-masing. Oya lupa, kami kan satu kost. Tak berapa lama saya ketiduran(padahal emang niat tidur) dengan masih memakai baju lumayan necis karena saya memang ngantuk sedari tadi bahkan untuk ganti baju pun tak sanggup. Sebelumnya saya sempat menyetel alarm pukul 23.54 niatnya mau tidur 50menit saja. Dasarnya titisan gudel, saya baru benar-benar bangun jam 00.40 lalu sama sekali tidak ngantuk dan bahkan sampai 08.18 saya belum tidur dan malah masih menulis cerita ini. Hmm..padahal seharusnya saya menunaikkan kewajiban saya menulis yang lainnya. Ah jadi teringat pada skrips* itu

Baiklah kalau begitu saya akhiri di sini saja. Auf wiedersehen